digtara.com -Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan melemah pada perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.
Proyeksi tersebut muncul setelah rupiah ditutup menguat tipis pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026. Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan Bisnis.com, rupiah menguat 0,07 persen atau 13 poin ke level Rp17.900 per dolar AS.
Meski mencatat penguatan, pergerakan rupiah masih dibayangi dolar AS yang bertahan di level tinggi serta sejumlah risiko eksternal dan domestik.
Dolar AS Menguat, Pasar Menanti Data InflasiIndeks dolar AS (DXY) naik 0,27 persen ke level 102,30. Mengutip Trading Economics, indeks tersebut bertahan di dekat level tertinggi dalam 18 bulan terakhir.
Pelaku pasar menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat sebagai salah satu acuan untuk memperkirakan arah kebijakan moneter dan pergerakan dolar AS selanjutnya.
Selain itu, risiko geopolitik dan gangguan pasokan energi turut memengaruhi sentimen pasar keuangan. Laporan yang dikutip Bisnis.com menyebutkan bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan tantangan yang dihadapi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, akibat konflik geopolitik dan gangguan pasokan energi.
Baca Juga: Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah, Cek Proyeksi Kurs Dolar AS Selasa 13 Oktober 2026
Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap negara yang bergantung pada impor energi, terutama ketika harga energi dan nilai tukar bergerak tidak menguntungkan.
Inflasi Pangan dan Kebijakan BI Jadi PerhatianDari dalam negeri, tekanan harga pangan yang berlanjut berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi hingga akhir tahun. Situasi ini menjadi tantangan bagi Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pelaku pasar juga mencermati pernyataan pejabat bank sentral mengenai independensi kebijakan moneter.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, kembali menegaskan independensi bank sentral dalam menetapkan suku bunga meskipun koordinasi dengan pemerintah semakin erat. Penegasan tersebut ditujukan untuk meredam kekhawatiran pasar mengenai potensi intervensi politik terhadap kebijakan moneter.
Di sisi eksternal, cadangan devisa Indonesia tercatat relatif stabil pada September dan bertahan di dekat level tertinggi dalam lima bulan.
Namun, defisit transaksi berjalan yang berlanjut serta kondisi pendanaan global yang lebih ketat dinilai membuat rupiah rentan terhadap perubahan arus modal asing.
Proyeksi Rupiah Hari Ini dan Sepanjang PekanIbrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak melemah pada perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026, dengan kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per
dolar AS.
Untuk perdagangan sepanjang pekan ini, Ibrahim memproyeksikan rupiah berada di rentang Rp17.780 hingga Rp18.060 per dolar AS.
Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan dolar AS, data inflasi Amerika Serikat, risiko geopolitik, serta dinamika inflasi dan arus modal di dalam negeri.
Proyeksi tersebut merupakan perkiraan pasar dan bukan kepastian arah pergerakan nilai tukar. Nilai tukar aktual dapat berubah mengikuti perkembangan ekonomi dan sentimen investor.
Baca Juga: Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah, Cek Proyeksi Kurs Dolar AS Selasa 13 Oktober 2026