Rupiah Melemah ke Rp17.938 per Dolar AS, Pasar Menanti Arah Suku Bunga The Fed

Arie - Jumat, 16 Oktober 2026 10:00 WIB
net
Ilustrasi.

digtara.com -Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026. Pergerakan mata uang Garuda dibayangi ketidakpastian arah suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), di tengah tekanan inflasi dan risiko geopolitik.

Mengacu pada data dalam laporan sumber, rupiah turun 0,20% atau 35 poin ke level Rp17.938 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp17.970 per dolar AS.

Komitmen Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar di tengah tekanan eksternal.

Intervensi Bank Indonesia Jaga Stabilitas RupiahLaporan Trading Economics menyebutkan bahwa bank sentral kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), baik di luar negeri maupun domestik, serta di pasar spot.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa cadangan devisa Indonesia sedikit menurun pada September, tetapi masih berada di dekat level tertinggi dalam lima bulan terakhir.

Intervensi di pasar valuta asing merupakan salah satu instrumen yang dapat digunakan bank sentral untuk meredam gejolak nilai tukar. Meski demikian, pergerakan rupiah tetap dipengaruhi kondisi pasar global, arus modal, dan permintaan terhadap dolar AS.

IMF Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi IndonesiaDi tengah tekanan terhadap rupiah, fundamental ekonomi domestik dinilai masih memiliki sejumlah penopang. Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dari 5,0% menjadi 5,1%.

Revisi tersebut mempertimbangkan langkah-langkah untuk mendukung konsumsi rumah tangga serta perkiraan peningkatan belanja pemerintah.

Proyeksi pertumbuhan yang lebih tinggi dapat menjadi sinyal positif bagi prospek ekonomi nasional. Namun, pengaruhnya terhadap nilai tukar juga bergantung pada faktor lain, termasuk kondisi eksternal, kebijakan moneter, dan pergerakan arus modal.

Baca Juga: Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah ke Rp17.950 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

IMF juga mengingatkan bahwa konflik geopolitik dan risiko gangguan pasokan energi berpotensi membebani perekonomian negara-negara pengimpor minyak.

Inflasi Indonesia Meningkat Jadi 3,28%Tekanan inflasi turut menjadi perhatian dalam menilai prospek ekonomi dan kebijakan moneter. Badan Pusat Statistik (BPS), berdasarkan angka yang dikutip dalam naskah sumber, melaporkan inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan (year on year/YoY).

Kenaikan inflasi dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan menjadi pertimbangan dalam penentuan kebijakan ekonomi. Bagi pasar keuangan, perkembangan harga domestik juga perlu dicermati bersama arah suku bunga dan pergerakan nilai tukar.

Di tingkat global, risiko geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan energi menambah ketidakpastian terhadap prospek inflasi. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya energi dan produksi, terutama bagi negara yang bergantung pada impor minyak.

Indeks Dolar AS Turun, Pasar Cermati The FedPada perdagangan yang sama, indeks dolar AS dilaporkan turun 0,46% ke level 102,08. Pelemahan indeks tersebut terjadi ketika pelaku pasar masih mencermati prospek kebijakan moneter The Fed setelah data inflasi AS melampaui ekspektasi.

Indeks dolar AS mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Pergerakannya menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor dalam menilai tekanan terhadap mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Laporan Trading Economics menyebutkan bahwa pelaku pasar sedang menilai sikap The Fed setelah muncul data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan.

Jika tekanan inflasi AS bertahan, pasar dapat menyesuaikan ekspektasi terhadap arah suku bunga. Perubahan ekspektasi tersebut berpotensi memengaruhi imbal hasil aset berdenominasi dolar, arus modal global, dan pergerakan mata uang negara berkembang.

Baca Juga: Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah ke Rp17.950 per Dolar AS, Ini Faktor Pemicunya


Prospek Rupiah Masih Dibayangi Ketidakpastian GlobalPelemahan rupiah ke Rp17.938 per dolar AS pada 15 Oktober 2026 mencerminkan tekanan yang berlangsung di tengah ketidakpastian global. Inflasi AS, arah kebijakan The Fed, serta risiko geopolitik dan pasokan energi menjadi sejumlah faktor yang diperhatikan pelaku pasar.

Di sisi domestik, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinaikkan IMF dan upaya stabilisasi nilai tukar oleh bank sentral menjadi faktor pendukung yang perlu dicermati.

Ke depan, pergerakan rupiah akan bergantung pada perkembangan data ekonomi, kebijakan moneter AS, kondisi geopolitik, serta respons pasar valuta asing. Karena itu, investor dan pelaku usaha perlu memantau perkembangan tersebut sebelum mengambil keputusan yang berkaitan dengan valuta asing.

Baca Juga: Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah ke Rp17.950 per Dolar AS, Ini Penyebabnya


Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah ke Rp17.950 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Ekonomi

Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah ke Rp17.950 per Dolar AS, Ini Faktor Pemicunya

Ekonomi

Rupiah Hari Ini Diprediksi Melemah, Cek Proyeksi Kurs Dolar AS Selasa 13 Oktober 2026

Ekonomi

Rupiah Hari Ini 12 Oktober 2026 Diprediksi Melemah, Dolar AS Berpotensi Tembus Rp17.950

Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 9 Oktober 2026, Dolar AS Bertahan di Level Tinggi

Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 8 Oktober 2026 Diprediksi Melemah, Cek Proyeksinya