Digtara.com | JAKARTA – Kemarin, rupiah di pasar spot melemah 0,21% menjadi Rp 14.268 per dollar Amerika Serikat (AS) Sentimen eksternal menjadi penggerak rupiah di tengah pekan ini.
Kurs tengah rupiah di Bank Indonesia (BI) juga terdepresiasi 0,42% ke Rp 14.262 per dollar AS.
Menurut Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, koreksi rupiah terjadi karena adanya perkembangan negatif dari pasar global.
Berdasarkan data inflasi tahunan Eropa di Juli 2019 hanya 1%. Padahal para analis memprediksi, inflasi tahunan di Uni Eropa paling tidak masih menyentuh 1,1%.
“Selain itu ada kesepakatan dagang antara AS dan China yang belum jelas hingga ketegangan Jepang dan Korea Selatan terkait ekspor barang teknologi menambah beban rupiah,” kata dia.
Hal senada dikatakan Analis Asia Trade Point Future Deddy Yusuf Siregar bilang, pergerakan rupiah hari ini juga menanti notulensi FOMC Meeting yang akan dirilis Kamis (22/8). Oleh karena itu, pelaku pasar memilih wait and see sambil mengawasi pertemuan dalam Jackson Hole Symposium.
Pasar juga tengah menanti arah kebijakan The Federal Reserve selanjutnya. Selain itu, dari dalam negeri juga, ada juga agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dimulai hari ini hingga Kamis (22/8) nanti.
Dia memprediksi, rupiah bergerak dalam rentang Rp 14.200-Rp 14.350 per dollar AS. Sedangkan David menebak, mata uang Garuda berada dalam kisaran Rp 14.230-Rp 14.280 per dollar AS.[kontan]