Harga Minyak Mentah Naik di Level USD59,51 Per Barel

- Rabu, 28 Agustus 2019 03:52 WIB

Digtara.com | NEW YORK – Pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB) harga minyak naik mengakhiri penurunan beruntun selama empat hari, karena investor menunggu data persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS), meskipun kenaikannya dibatasi oleh kekhawatiran tentang resesi dan ketidakpastian atas kesepakatan dagang AS-China.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober naik USD0,81 atau 1,4% menjadi ditutup pada USD59,51 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sedangkan, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober, naik USD1,29 atau 2,4% menjadi menetap pada USD54,93 per barel di New York Mercantile Exchange,

Di mana harga-harga memperpanjang kenaikan dalam perdagangan pasca-penyelesaian, dengan Brent menyentuh tertinggi USD59,88 dan WTI mencapai USD55,45, setelah data dari kelompok industri American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun lebih dari yang diperkirakan.

Sementara, stok minyak mentah AS turun tajam pekan lalu karena impor turun, anjlok 11,1 juta barel, dibandingkan dengan ekspektasi untuk penarikan 2,0 juta barel. Laporan mingguan pemerintah AS baru akan dirilis Rabu pagi waktu setempat.

Pengurangan dalam persediaan di tengah berjalannya penyulingan yang kuat memberi kekuatan pada harga minyak mentah, mengungguli kekhawatiran bahwa ketegangan perdagangan dapat membebani permintaan, kata Bob Yawger, Direktur Energi Berjangka di Mizuho di New York.

Selama sesi tersebut, pasar minyak telah terombang-ambing dalam menanggapi ayunan di Wall Street, yang tertekan oleh jatuhnya saham-saham keuangan, sementara kekhawatiran tentang resesi AS hidupkan kembali dibayangi optimisme awal resolusi untuk sengketa perdagangan berkepanjangan antara dua ekonomi terbesar di dunia.

Presiden AS Donald Trump percaya China tulus tentang keinginan untuk mencapai kesepakatan, sementara Wakil Perdana Menteri China Liu He mengatakan China bersedia untuk menyelesaikan perselisihan melalui negosiasi tenang.

Namun demikian, pada Selasa (27/8/2019) kekhawatiran tentang perdagangan muncul kembali setelah kementerian luar negeri China mengatakan bahwa mereka tidak mendengar adanya pembicaraan melalui saluran telepon baru-baru ini antara Amerika Serikat dan China tentang perdagangan, dan mengatakan mereka berharap Washington dapat menghentikan tindakan yang salah dan menciptakan kondisi untuk pembicaraan.

Harga minyak mentah telah turun sekitar 20% dari tertinggi 2019 yang dicapai pada April, sebagian karena kekhawatiran bahwa perang perdagangan AS-China merusak ekonomi global, yang dapat mengurangi permintaan minyak.[kontan]


Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Ekonomi

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Ekonomi

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Ekonomi

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Ekonomi

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Ekonomi

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo