Digtara.com | JAKARTA – Pada penutupan perdagangan periode Agustus, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di 6.328,47. Sepanjang Agustus, indeks saham turun 0,97%.
Menurut Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan di September ini, IHSG masih cenderung bergerak melemah. Terlebih, secara historis, performa indeks selalu negatif selama September. “Ini terjadi selama lima tahun terakhir.
Dalam lima tahun terakhir, indeks melemah tiga kali di September, yakni di 2015, 2016 dan 2018. Di 2014, meski menguat, IHSG cuma naik tipis, yakni 0,01%.
Dia menambahkan, dari sisi teknikal, level 6.330 menjadi kunci. Indeks bisa kembali memasuki tren bullish jika level ini ditembus. Kalau pun bisa tembus, penguatan yang terjadi hanya terbatas pada area 6.400-6.450 saja,” papar dia.
Setali tiga uang, Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menilai, IHSG masih akan cenderung bergerak fluktuatif ke arah koreksi. Faktor global menjadi pemicunya.
Dari Amerika Serikat (AS), sentimen inversi kurva yield obligasi AS tenor dua dan 10 tahun masih mempengaruhi pasar. Belum lagi perang dagang makin memanas.
Selain itu, ada sentimen ekonomi Eropa melemah jika Inggris akhirnya keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan. “IHSG bulan ini akan bergerak di level support 6.240, sementara resistance di level 6.404,” ujar Hans.