Serangan Pestalotiopsis Ancam Produksi Karet Sumut

Redaksi - Rabu, 04 September 2019 11:31 WIB

digtara.com | SERDANGBEDAGAI – Serangan jamur Pestaloptiosis sudah menjadi ancaman terbesar bagi produksi karet Sumatra Utara  sehingga berbagai pihak terkait perlu segera mengendalikan penyakit tanaman ini.

Menurut Priyo Adi Nugroho, Peneliti dari Pusat Penelitian Sungei Putih, serangan Pestalotiopsis terhadap tanaman karet di Indonesia sudah pada kondisi yang mengkhawatirkan.

“Ini (serangan Pestalotiopsis) sudah menjadi ancaman bagi kita,” ungkapnya seusai menja di pembicara dalam kegiatan Bimbingan Teknis Mencegah dan Mengatasi Pestalotiopsis, Rabu (4/9/2019).

Kegiatan bimbingan teknis itu digelar oleh Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) di aula kantor manajemen PT PD Paya Pinang di Paya Mabar, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatra Utara.

Berdasarkan hasil riset Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian bersama dengan Pusat Penelitian Karet Sungei Putih, luas serangan dari patogen tanaman itu sudah mencapai 382.000 hektare sampai dengan Juli 2019.

Melonjak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan luas serangan sampai dengan April 2019 atau hampir 18 kali lipat lebih luas dari Februari 2018. Indonesia sendiri merupakan negara yang memiliki areal karet paling luas di dunia, yakni mencapai 3,4 juta hektare.

Dari data tersebut, lanjutnya, Sumatra Utara menjadi daerah paling luas dari delapan provinsi yang mengalami serangan Pestalotiopsis, dengan 12.152 hektare. Diikuti Sumatra Selatan 9.971,57 ha, Bangka Belitung 80.670 ha, Lampung 154 ha, Jawa Barat 153 ha, Sulawesi Tengah 75 ha, Kalimantan Selatan 50 ha dan Jawa Tengah seluas 30 ha.

Bila tidak bisa dikendalikan, luas serangan akan terus bertambah dan secara langsung akan memukul produksi karet nasional, khususnya Sumut. Dengan besaran penurunan yang sama dengan dampak yang ditimbulkan terhadap getah, yakni sebesar 30-50 persen.

Kegiatan Bimbingan Teknis Mencegah dan Mengatasi Pestalotiopsis yang digelar Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) di aula kantor manajemen PT PD Paya Pinang di Paya Mabar, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatra Utara, Rabu 4 September 2019 (ocep/digtara)

Karena itu serangan Pestalotiopsis perlu segera disikapi oleh berbagai pihak terkait, khususnya para pengusaha perkebunan, petani dan pemerintah. Dan pengendaliannya tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus secara bersama.

Bila masih ada daerah perkebunan yang masih menjadi endemik, maka serangan Pestalotiopsis akan terus mengancam. Penyebaran spora jamur ini melalui angin sehingga bila masih ada perkebunan yang belum dikendalikan maka Pestalotiopsis masih bisa menyerang lagi ke kebun lain.

“Beberapa perkebunan karet sebenarnya sudah melakukan pengendalian, tetapi karena bekerja sendiri upaya tersebut tidak efektif,” ujarnya.

Kasus Pestalotiopsis pertama kali ditemukan di Sumatra Utara pada 2016. Namun hingga kini para peneliti belum mampu memastikan penyebarannya bersumber dari mana. Kendati dari catatan Pusat Penelitian Karet, sebelum tersebar ke Indonesia, kasus Pestalotiopsis terjadi di kebun pembibitan Malaysia pada 1975.

Kemudian pada November 2017 menyerang perkebunan rakyat di Labis, Kulai dan Kluang Johor. Adapun klon yang terserang adalah RRIM 2001, RRIM 2025, RRIM 2023, PB 260 dan PB 350, dengan usia 10-15 tahun. Pestalotiopsis juga ditemukan di negara-negara produsen karet lain di dunia, yakni Srilanka dan India.

[AS]

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Ekonomi

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Ekonomi

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Ekonomi

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Ekonomi

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Ekonomi

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo