Digtara.com | JAKARTA – Pada penutupan perdagangan Jumat kemarin (6/9/2019) Kurs rupiah masih terus menguat terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Kurs rupiah di pasar spot menguat 0,38% ke level Rp 14.101 per dollar AS.
Apabila dihitung selama sepekan, kurs rupiah naik 0,68%. Kurs Jakarta interbank dollar spot (JISDOR) juga menunjukkan penguatan. Selama sepekan, kurs tengah rupiah versi Bank Indonesia (BI) ini menguat 0,68%. Berdasarkan data kurs JISDOR ditutup naik 0,09% menjadi Rp 14.140.
Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, sentimen eksternal masih menjadi penopang rupiah pada pekan ini. Salah satu sentimen utama yang mendominasi ialah kondisi yang membaik di Hong Kong. Hal ini ditunjukkan dengan demo-demo yang mulai berkurang.
“Pemicu membaiknya karena pemerintah Hongkong akhirnya menghapus RUU ekstradisi yang selama ini ditentang,” paparnya.
Dia menegaskan tekanan sentimen global juga berkurang lantaran situasi seputar perang dagang AS dan China membaik. Pelaku pasar menyambut positif kemungkinan proses negosiasi dagang akan kembali dilakukan oleh AS dan China.
Sementara, Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan juga sepakat, sentimen negatif perang dagang yang mulai reda menjadi penopang rupiah untuk perkasa. Negosiasi antara AS dan China yang akan segera dilakukan dapat meningkatkan optimisme dan bisa mendorong pemulihan ekonomi global.
Dari dalam negeri, Yudi melihat, ada sentimen positif dari data cadangan devisa. Cadangan devisa akhir Agustus 2019 naik menjadi US$ 126,4 miliar dibanding bulan sebelumnya sebesar US$ 125,9 miliar.
“Cadangan devisa naik sehingga semakin memantapkan kurs rupiah,” ungkapnya.