Akhir Pekan, Bursa AS Ditutup Memerah

- Sabtu, 21 September 2019 01:56 WIB

Digtara.com | NEW YORK – Pada perdagangan penutupan akhir pekan Bursa Saham Amerika Serikat (AS) ditutup memerah setelah delegasi pertanian China membatalkan kunjungan mereka ke Montana. Pembatalan kunjungan ini mengurangi optimisme pembicaraan perdaganan AS-China yang secara tiba-tiba membuat Wall Street anjlok.

Melansir Reuters, Jumat (20/9) waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,59% menjadi 26.934,46, indeks S&P 500 juga turun 0,49% menjadi 2.991,99 dan Indeks Nasdaq turun 0,8% menjadi 8.117,67.

Sementara, delegasi China yang telah dijadwalkan mengunjungi negara-negara pertanian AS minggu depan memutuskan akan kembali ke China lebih cepat dari yang dijadwalkan, kata Biro Pertanian Montana.

Indeks saham utama jatuh setelah kabar pembatalan kunjungan tersebut tersebar dan menjadi pembicaraan dadakan di Washington dan Presiden AS Donald Trump mengatakan, dia menginginkan kesepakatan perdagangan yang lengkap, bukan hanya kesepakatan bagi China untuk membeli lebih banyak produk pertanian AS.

Akibat situasi tersebut indeks industri S&P 500 dan Dow Jones yang sebelumnya menanjak pada pembukaan perdagangan tiba-tiba anjlok.

Selama berbulan-bulan, Wall Street memantul ke atas dan ke bawah dengan tanda-tanda perbaikan atau kemunduran dalam pembicaraan perdagangan, seringkali berdasarkan komentar atau tweet dari Trump, sebuah siklus yang telah biasa digunakan para investor.

“Dalam hal ini, ini sedikit lebih memprihatinkan karena China yang membuat keputusan, bukan Trump,” kata Willie Delwiche, ahli strategi pasar di Baird di Milwaukee.

Delapan dari 11 sektor utama di indeks S&P yang sensitif terhadap tarif perdagangan jatuh . Yakni Indeks diskresi konsumen S&P 500. SPLRCD dan indeks teknologi informasi S&P 500 yang sensitif terhadap tarif. SPLRCT masing-masing mengalami penurunan paling besar, turun 1,2% dan 1,1%. Indeks chip Philadelphia .SOX turun 1,8%.

Netfliz jatuh 5,5% setelah CEO Reed Hastings menyatakan kenaikan biaya dan persaingan dari Walt Disney Co, Apple Inc dan layanan streaming video lainnya.

Menambah kesengsaraan Netflix, Evercore ISI mengatakan data terbaru melukiskan gambaran yang tidak pasti tentang pertumbuhan pelanggan internasional perusahaan.

Indeks kesehatan S&P 500 .SPXHC, yang telah menjadi sektor S&P dengan kinerja terburuk tahun ini, mencatat kenaikan terbesar di antara 11 sektor utama, naik 0,6%.

Merck & Co (MRK.N) naik 1,4% setelah perusahaan obat Pifeltro dan Delstrigo menerima persetujuan FDA untuk digunakan pada pasien dewasa tertentu dengan HIV-1 yang “ditekan secara virus.”

Roku Inc (ROKU.O) merosot 19,2% setelah Pivotal Research memulai peliputan sahamnya dengan peringkat “jual”.


Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Simak 6 Saham Rekomendasi Analis: IHSG Berpotensi Menguat Lagi Hari Ini Rabu 12 November 2025

Ekonomi

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Ekonomi

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Ekonomi

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Ekonomi

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Ekonomi

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur