digtara.com | JAKARTA – Berdasarkan data Bloomberg pukul 8.07 WIB nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan Selasa (24/9) pagi ini. Rupiah ke Rp14.080 per dolar AS atau menguat tipis 0,04%.
Sementara, pada Senin (23/9) kemarin, mata uang Garuda berakhir melemah 0,21% ke level Rp 14.085 per dolar AS.
Menurut Analis Monex Investindo Ahmad Yudiawan menyampaikan, pasar kembali gaduh akibat kondisi perang dagang saat ini. Sebab, delegasi China membatalkan kunjungan ke wilayah pertanian AS.
“Rupiah didominasi oleh faktor eksternal, terutama dari situasi perang dagang, ujar Yudi. Katalis negatif juga datang dari memanasnya kondisi geopolitik di Timur Tengah,” katanya.
Hal senada dikatakan Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, kondisi terbaru antara AS dan China menimbulkan ketidakpastian baru. Kondisi ini memicu meningkatnya permintaan safe haven, seperti dolar AS. Aset berisiko seperti rupiah pun ditinggalkan.
Mereka memperkirakan rupiah masih akan mengalami pelemahan hari ini, (24/9). Dari dalam negeri, potensi berlanjutnya demonstrasi yang berhubungan dengan beberapa revisi undang-undang bisa menambah sentimen negatif.
Proyeksi Yudi, rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.000–Rp 14.120 per dolar AS. Sedangkan Josua memprediksi, rupiah akan melemah terbatas dengan rentang pergerakan Rp 14.025–Rp 14.150 per dolar AS.[kontan]