digtara.com | JAKARTA – Konflik politik yang terjadi di Inggris kurang menguntungkan bagi pergerakan mata uang poundsterling. Lihat saja, Kamis (26/9) pukul 18.25 WIB pasangan GBP/USD melemah 0,04% ke level 1,2348.
Di mana tekanan terhadap poundsterling terjadi setelah Mahkamah Agung Inggris menangguhkan keputusan Perdana Menteri Borris Johnson yang pada bulan lalu membekukan parlemen Inggris.
Presiden Commissioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan Borris Johnson dinilai tidak jujur dan hanya berusaha mencegah parlemen menggagalkan rencana Brexit yang disiapkannya.
Sementara, arah poundsterling nantinya juga akan dipengaruhi oleh agenda pidato Gubernur Bank of England (BOE) Mark Carney nanti malam. Ada kemungkinan pernyataan Carney akan bernada dovish. Terlebih, semenjak masalah Brexit memanas, BOE kesulitan menjalankan kebijakan moneter dengan baik.
Namun di sisi lain, dollar AS bukannya tanpa tekanan. Saat ini para pelaku pasar khawatir terhadap isu pemakzulan Presiden AS Donald Trump. Namun, dolar AS sempat terbantu oleh pernyataan sejumlah pejabat The Federal Reserves kemarin bahwa ada potensi kenaikan suku bunga AS tidak seagresif yang diperkirakan sebelumnya.
Malam nanti, data final pertumbuhan ekonomi AS di kuartal II-2019 akan dirilis. Hasil ini diperkirakan bakal berpengaruh besar terhadap pergerakan pasangan GBP/USD dalam waktu dekat.
Dia menyebutkan, pasangan GBP/USD masih berkonsolidasi di kisaran 1,2325-1,2375 seiring masih ditunggunya pernyataan Gubernur BOE dan rilis data ekonomi AS.
Pasangan ini berada di bawah pergerakan MA20, MA50, dan MA200. Indikator RSI berada di bawah level tengah dan belum menunjukkan tanda oversold.
Dia merekomendasikan sell pasangan GBP/USD dengan support di kisaran level 1,2325-1,2300-1,2250 dan resistance di area 1,2375-1,2425-1,2500.[kontan]