Harga Minyak Melejit Sejak Akhir Pekan Kemarin

- Senin, 14 Oktober 2019 02:08 WIB

digtara.com | JAKARTA -Pada perdagangan Senin (14/10) pukul 7.13 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman November 2019 di New York Mercantile Exchange naik 0,18% ke US$ 54,80 per barel.

Harga minyak melanjutkan penguatan yang terjadi sejak akhir pekan lalu. Ini adalah kenaikan harga minyak dalam tiga hari perdagangan berturut-turut. Sementara harga minyak brent untuk pengiriman Desember 2019 sudah naik dalam empat hari perdagangan sejak Rabu lalu.

Pagi ini, harga minyak brent naik 0,16% ke US$ 60,61 per barel. Harga minyak acuan internasional ini kembali ke atas US$ 60 sejak akhir pekan lalu setelah bergerak di bawah level tersebut selama dua pekan.

Dalam wawancara televisi yang ditayangkan oleh Al Arabiya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa persediaan minyak global perlu dipangkas hingga level yang masuk akal. Dia mengatakan bahwa Rusia akan bekerja bersama dengan Arab Saudi dan partner lain untuk menurunkan level ini ke nol untuk destabilisasi pasar.

Putin mengatakan bahwa serangkaian serangan tanker minyak di Teluk dan fasilitas minyak Saudi akan mempererat kerja sama antara para produsen minyak OPEC+.

“Jika ada yang berpikir aksi tersebut, menahan dan menyerang tanker infrastruktur minyak, akan memengaruhi kerja sama Rusia dengan rekan Arab kami, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, atau menghancurkan kerja sama OPEC+, maka mereka semua salah,” kata Putin, seperti dikutip Reuters.

Putin mengatakan bahwa serangan-serangan ini akan menyatukan OPEC+ karena tujuan utama kerja sama ini adalah stabilisasi pasar energi global. “Tapi dari sisi teknis persediaan minyak global perlu dikurangi ke level yang masuk akal sehingga tidak menekan harga minyak,” kata dia.

Harga minyak melejit sejak menjelang akhir pekan lalu setelah adanya serangan terhadap tanker Iran di Laut Merah, dekat dengan pantai Saudi. National Iranian Tanker Company mengatakan bahwa kapal tersebut rusak tapi stabil. Perusahaan ini juga mengelak laporan yang menyebut bahwa tanker ini meledak.

“Kami memperkirakan, kejadian tanker ini memiliki premi risiko US$ 1 per barel yang bisa segera terhapus dalam beberapa sesi jika tidak ada perkembangan insiden lebih lanjut,” kata Jim Ritterbusch, presiden perusahaan penasihat perdagangan Ritterbusch and Associates dalam catatan yang dikutip Reuters.


Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Ekonomi

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Ekonomi

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Ekonomi

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Ekonomi

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Ekonomi

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo