digtara.com | JAKARTA – Semenjak awal pekan ini, kurs rupiah terus mencatatkan tren pelemahan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,21% ke level Rp 13.644 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (28/1).
Sedangkan, rupiah pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) berada di level Rp 13.647, melemah 0,26% dari hari sebelumnya.
Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf mengatakan rupiah akan cenderung bergerak flat dengan potensi melemah.
Setidaknya dua sentimen eksternal akan menekan pergerakan rupiah hari ini.
Pertama, isu penyebaran virus corona yang terjadi tidak hanya di Wuhan, China. Kekhawatiran penyebaran virus mendorong investor lari dari aset berisiko menuju aset aman atau aset safe haven.
Alwi Menjelaskan, rupiah termasuk ke dalam aset berisiko. Sehingga ada kemungkinan investor mulai beralih dari rupiah menuju dolar AS yang termasuk safe haven.
Selain itu menurutnya, virus corona akan menyebabkan perekonomian global melambat. Padahal, perekonomian global baru saja berangsur pulih pasca kesepakatan dagang fase pertama antara AS dan China ditandatangani.
“Virus corona akan memangkas pertumbuhan ekonomi China 1,2 poin persentase. Jadi perkiraan 6% menjadi 4,8%,†jelasnya.
Kondisi ini akan menghambat arus modal pasar keuangan Asia yang menyebabkan mata uang emerging market termasuk rupiah tertekan.