digtara.com | JAKARTA – Awal pekan, kurs rupiah spot diprediksi dalam kondisi tertekan. Pada penutupan perdagangan Jumat (14/2), rupiah spot ditutup ke level Rp 13.693 per dolar Amerika Serikat (AS) atau menguat tipis 0,01% dibanding penutupan hari sebelumnya di level Rp 13.694 per dolar AS.
Dalam sepekan, pergerakan rupiah terpantau melemah dengan penurunan sebesar 0,13%.
Pelemahan juga terjadi di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Rupiah melemah 0,20% ke level Rp 13.707 per dolar AS.Hal yang sama juga terjadi di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Sepekan kemarin rupiah melemah 0,44%.
Head of Economic Research Pefindo Fikri C Permana melihat potensi pelemahan rupiah pada Senin (17/2) masih akan mungkin terjadi.
Dari sisi eksternal, Fikri menyebut persebaran virus corona masih akan menjadi sentimen pemberat.
Ditambah dengan kemungkinan downside risk ekonomi yang menimpa beberapa negara berkembang.
“Downside risk ekonomi dari Argentina, India, dan China diperkirakan akan cukup berpengaruh terhadap kepercayaan bagi negara berkembang, termasuk Indonesia,” papar Fikri.
Oleh sebab itu, ia memproyeksikan rupiah akan bergerak pada rentang Rp 13.640 – Rp 13.740 dengan kecenderungan melemah.