Harga Minyak Mentah Kembali Menguat

- Rabu, 04 Maret 2020 01:31 WIB

Warning: getimagesize(https://cdn.digtara.com/uploads/images/202003/minyak-mentah.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 172

digtara.com | JAKARTA – Merespon harapan pemangkasan produksi minyak Arab Saudi dan kekompakan bank sentral yang berusaha menjaga kestabilan ekonomi di tengah tekanan sentimen virus korona membuat harga minyak mentah kembali menguat.

Melansir Bloomberg, Selasa (3/3) harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman April 2020 menguat 3,33% ke US$ 48,31 per barel.

Analis Kapital Global Investama Alwi Assegaf mengatakan, harga minyak dunia naik karena muncul harapan dari OPEC+ akan mengurangi produksi minyak untuk menstabilkan harga minyak.

“Tanggal 5-6 Maret OPEC+ akan melakukan rapat dengan agenda membahas proposal dari Arab Saudi yang mengusulkan untuk memangkas produksi minyak 1 juta barel per hari,” kata Alwi

Sementara, pelaku pasar sudah merespon positif dan memperkirakan anggota OPEC+ lain seperti Rusia akan menyetujui proposal Arab Saudi tersebut. Alhasil, sentimen ini membawa naik harga minyak.

Tetapi yang perlu diingat, kenaikan harga minyak kini masih dibayangi sentimen negatif dari penyebaran virus corona yang mengancam pertumbuhan ekonomi global.

“Ketika ekonomi global menurun maka permintaan minyak akan melambat,” kata Alwi.

Namun, di sisi lain risk appetite kembali muncul. Lihat saja, Selasa (3/3) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik naik 2,9% ke level 5.518.

Kekhawatiran perlambatan ekonomi sedikit mereda setelah bank sentral dunia bekerjasama agar ekonomi dunia terhindar dari kejatuhan dan mereka siap menstabilkan pasar dengan memberi stimulus seperti pemangkasan suku bunga.

Alwi melihat kekompakan bank sentral global untuk menjaga kestabilan ekonomi menjadi sinyal positif bagi harga minyak.”Stimulus pemangkasan suku bunga menggairahkan pasar dan turut membantu harga minyak naik,” kata Alwi.

Namun, tetap perlu diingat pelaku pasar masih menantikan hasil rapat OPEC+. Secara fundamental, Alwi menilai harga minyak masih dalam tren bearish karena diselimuti efek negatif virus corona.

Jika pelaku pasar puas dengan hasil rapat OPEC+, Alwi memproyeksikan tren kenaikan harga minyak bisa berlanjut dalam jangka pendek hingga menengah.

Namun, bila hasil rapat tidak sesuai dengan harapan pasar, maka harga minyak berpotensi kembali jatuh.

 


Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Ekonomi

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Ekonomi

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Ekonomi

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Ekonomi

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Ekonomi

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo