IHSG Masih Digerogoti Sentimen Virus Corona Pekan Depan

- Minggu, 08 Maret 2020 00:04 WIB

digtara.com | JAKARTA – Pasar spot mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan 0,84% dalam sepekan. Pada penutupan perdagangan Jumat (6/3), IHSG berada di level 5.498,54, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan pekan sebelumnya yang berada di level 5.452,70.

Di mana penguatan yang terjadi pekan ini ditopang oleh IHSG yang memasuki zona hijau selama dua hari berturut-turut. Direktur PT. Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengamati penguatan yang tidak terlepas dari stimulus moneter berbagai bank central dunia.

Penyebaran virus corona atau COVID-19 yang cepat mendorong The Fed melakukan pemangkasan suku bunga acuan sebanyak 50 bps dari 1,5% sampai 1,75% menjadi 1,00% sampai 1,25%. Pemangkasan ini dilakukan di luar jadwal rapat tanggal 18 Maret.

“Pemotongan suku bunga darurat pertama kali sejak krisis tahun 2008,” kata Hans Kwee dalam keterangan.

Langkah ini diambil The Fed melihat COVID-19 berpotensi memiliki dampak negatif lebih besar dibandingkan perkiraan. Asal tahu saja, yield obligasi Amerika dengan tenor 10 tahun turun ke level 1% (0,9060%), yang merupakan angka terendah di sepanjang sejarah.

Penurunan Yield mengindikasikan orang menjual instrumen berisiko dan masuk ke instrumen yang lebih aman seperti Obligasi Amerika di atas 10 tahun.

Selain itu, harga emas yang dianggap save haven juga mengalami penguatan tetapi dolar AS melemah. Pasar saham Wall Street juga mengalami pelemahan tajam, menjadi cerminan pelaku pasar mendapatkan sinyal negatif. .

Adapun pada pertemuan 18 Maret hingga 19 Maret nanti, pelaku pasar masih menanti berbagai stimulus bank central untuk menghadapi perlambatan ekonomi US dan Dunia. Pelaku pasar berharap ada pemotongan bunga kembali.

Stimulus untuk menghadapi COVID-19 juga dilakukan oleh berbagai negara seperti Canada, Eropa, dan Jepang. Tidak ketinggalan, berbagai lembaga dunia seperti IMF, Bank Dunia, dan G7 siap juga tidak tinggal diam menghadapi COVID-19 ini.

Meskipun ada berbagai sentimen positif dari global, pasar saham dunia masih khawatir peringatan WHO bahwa virus corona memiliki potensi menjadi pandemik.

Selain itu, lembaga pemeringkat Moody’s memperingatkan wabah COVID-19 akan memicu resesi global pada paruh pertama tahun 2020. Angka penyebaran virus korona global dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ada setidaknya 95.200 dengan jumlah kematian global sekitar 3.270.

Kasus pertama dilaporkan di Azerbaijan, Belarus, Lithuania, Meksiko, Selandia Baru dan Nigeria, negara terpadat di Afrika. Sementara penyebarannya masih terus terjadi di beberapa negara termasuk Inggris, Korea Selatan, China.

“Akibat virus korona ini OECD memprakirakan ekonomi dunia hanya akan tumbuh 2,4% tahun 2020 dan merupakan pertumbuhan terendah sejak 2009,” terang Hans Kwee.

Pekan depan pasar masih akan dibayangi dengan penyebaran COVID-19 yang cepat di berbagai negara. Diperkirkan, IHSG pekan depan masih akan koreksi dengan pola koreksi di awal-awal peka, akan tetapi di akhir pekan berpeluang rebound menguat. Support IHSG sepekan adalah 5431 sampai 5288 dan resistance di level 5577 sampai 5715.

“Pelaku pasar dengan horizon investasi lebih dari 1 tahun kembali kami rekomendasikan melakukan cicil beli ketika IHSG turun di bawah 5300,” tutupnya.[kontan]


Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Kamis, 29 Januari 2026: IHSG Ambrol 7,35%, Kapitalisasi Pasar Susut Rp1.259 Triliun

Ekonomi

Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Rabu 28 Januari 2026, BUMI hingga GOTO Menguat

Ekonomi

Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Selasa, 27 Januari 2026

Ekonomi

Rekomendasi Aplikasi Trading Terbaik di Indonesia 2026 untuk Pemula dan Profesional

Ekonomi

Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Jumat 23 Januari 2026, Waspada Koreksi ke 8.956

Ekonomi

Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini Kamis 22 Januari 2026, Waspada Koreksi Lanjutan