Harga Minyak Dunia Tenggelam Terpukul Wabah Virus Corona

- Minggu, 08 Maret 2020 01:49 WIB

digtara.com | NEW YORK – Pasca Organisasi Pengekspor Minyak (OPEC) gagal membuat kesepakatan untuk mengurangi pasokan untuk antisipasi turunnya permintaan akibat wabah virus corona menyebabkan Harga minyak dunia tenggelam di pasar spot.

Harga minyak Brent bahkan mencatat penurunan harian terbesar dalam lebih dari 11 tahun pada Jumat (7/3),setelah Rusia menolak keras usulan pengurangan produksi dari OPEC untuk menstabilkan harga minyak yang terpukul wabah virus corona.

Harga minyak Brent futures anjlok 9,4% menjadi US$ 45,27 per barel, penurunan harian terbesar sejak Desember 2008. Ini juga harga penutupan terendah minyak Brent sejak Juni 2017.

Sementara harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) longsor 10,1% atau US$ 4,62 menjadi $ 41,28 per barel, penutupan terendah sejak Agustus 2016 dan penurunan harian terbesar sejak November 2014.

“Harga anjlok karena pertemuan OPEC dan Rusia berakhir dengan kegagalan besar-besaran di pihak semua yang terlibat,” kata John Kilduff, Partner di Again Capital LLC New York seperti dikutip Reuters.

Perpecahan antara OPEC dan Rusia menghidupkan kembali kekhawatiran jatuhnya harga minyak tahun 2014, ketika Arab Saudi dan Rusia berjuang sendiri untuk berebut pangsa pasar dengan produsen minyak serpih AS, yang tidak pernah berpartisipasi dalam pembatasan produksi.

OPEC mengusulkan tambahan 1,5 juta barel per hari (bph) pemotongan produksi minyak sampai akhir 2020.

Negara-negara non-OPEC diharapkan memberikan kontribusi 500.000 barel per hari untuk keseluruhan pemotongan tambahan, kata para menteri OPEC. Jika sepakat, berarti akan ada pembatasan produksi OPEC dan non OPEC sebanyak total 3,6 juta barel per hari, atau sekitar 3,6% dari pasokan global.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak kepada CNN Business mengatakan produsen minyak akan membuat keputusan sendiri tentang apa yang harus dilakukan mulai 1 April.

Firma riset IHS Markit memperkirakan permintaan minyak akan turun tajam pada kuartal pertama 20220, bahkan lebih buruk daripada selama krisis keuangan global 2008.

Sebab, banyak sekolah dan kantor tutup, maskapai penerbangan membatalkan penerbangan dan semakin banyak orang menghindari bepergian.

Sebagian besar pengurangan permintaan minyak dapat ditelusuri ke China, yang menjadi pusat wabah virus corona. Akibat wabah corona, ada aktivitas ekonomi China yang dihentikan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Goldman Sachs menyebutkan OPEC harus setuju untuk membatasi produksi setidaknya 1 juta barel per hari untuk menghindari aksi jual “tajam”.


Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Ekonomi

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Ekonomi

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Ekonomi

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Ekonomi

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Ekonomi

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo