digtara.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami penguatan dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan penguatan rupiah sempat menembus angka psikologis yaitu di bawah 14.000 per dolar AS.
Pendorong penguatan ini ditopang meredanya ketidakpastian pasar keuangan global. “Termasuk terjaganya kepercayaan investor asing terhadap prospek kondisi ekonomi Indonesia,” kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo di Gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, seperti dikutip dari Merdeka.com, Jumat (19/06/2020).
Nilai tukar rupiah mengalami apresiasi sebesar 3,75 persen secara point to point atau 5,69 persen secara rerata dibandingkan dengan level Mei 2020. Meskipun masih terdepresiasi sebesar 1,42 persen bila dibandingkan dengan level akhir 2019.
Bank Indonesia memandang level nilai tukar rupiah secara fundamental masih undervalued. Sehingga berpotensi terus menguat dan dapat mendukung pemulihan ekonomi domestik.
Potensi penguatan nilai tukar didukung oleh beberapa faktor fundamental, seperti inflasi yang rendah dan terkendali, defisit transaksi berjalan yang rendah. Lalu imbal hasil aset keuangan domestik yang kompetitif, dan premi risiko Indonesia yang mulai menurun.
Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar, Bank Indonesia terus mengoptimalkan operasi moneter guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar dan ketersediaan likuiditas baik di pasar uang maupun pasar valas.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Kamis pekan ini. Hal tersebut jelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.
Mengutip Bloomberg, Kamis 18 Juni 2020, rupiah dibuka di angka 14.062 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.082 per dolar AS. Menjelas siang, rupiah terus bergerak menguat ke level 14.045 per dolar AS.
[ya]
Saksikan video-video terbaru lainnya hanya di Channel Youtube Digtara TV. Jangan lupa, like comment and Subscribe.