Begini Cara Mengatasi Anak Yang Trauma Pada Aksi Demo

Redaksi - Kamis, 23 Mei 2019 16:08 WIB

Warning: getimagesize(https://cdn.digtara.com/uploads/images/201905/00-28-11-images.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 172

digtara.com | JAKARTA – Aksi demonstrasi yang berujung pada kericuhan seperti yang terjadi beberapa hari terakhir, mungkin membuat sejumlah orang mengalami trauma. Gejalanya bisa terlihat dari munculnya rasa panik, khawatir, cemas, takut dan perasaan-perasaan buruk lainnya.

Gejala traumatik itu bisa dirasakan oleh orang dewasa, dan bisa juga oleh anak-anak. Apalagi media begitu gencar memberikan dan menyajikan narasi dan gambar-gambar kekerasan dalam aksi demonstrasi tersebut.

Peristiwa tentang kericuhan atau aksi demo 22 Mei belakangan ini mungkin membuat anak mengalami trauma karena sebelumnya tidak pernah melihat kerumunan massa dalam jumlah besar saling berteriak dan melempar.

Psikolog anak, Ayoe Sutomo mengatakan, saat mengalami trauma, biasanya terjadi perubahan perilaku pada anak. Dalam hal ini yang berkaitan dengan demo, anak yang tadinya berani untuk pergi sendiri bisa jadi merasa takut. Dirinya meminta untuk ditemani oleh orang dewasa ketika hendak pergi ke suatu tempat karena merasa ada sesuatu yang tidak aman.

“Bila sudah begitu, maka ada langkah-langkah yang harus diambil oleh orangtua,”sebut Ayoe seperti dilansir Okezone, Kamis (23/5/2019).

Pertama, kata Ayoe, orangtua perlu menyampaikan kepada anak tentang kondisi di luar anak tersebut. Apabila anak mengalami trauma karena demo, berikan informasi tambahan kalau aksi tersebut dijaga oleh polisi atau petugas keamanan.

Kedua, orangtua perlu melindungi perasaan aman anak sehingga ketakutan yang dialaminya tidak mengganggu keseharian.

“Orangtua perlu melihat sejauh mana trauma yang dialami anak, caranya bisa ajak obrol, ajak main, biarkan anak releasing emosi dan menerimanya. Jangan malah dibilang ‘Masa gitu saja takut’ karena bagaimanapun anak baru mengalaminya pertama kali,”jelasnya.

Untuk melindungi perasaan aman anak, orangtua bisa menanyakan hal apa yang bisa membuatnya merasa lebih baik. Selanjutnya, orangtua bisa melakukan permintaan anak agar mereka bisa menerima peristiwa yang dialaminya serta menghilangkan rasa trauma.

Langkah-langkah tersebut harus segera dilakukan oleh orangtua setelah peristiwa yang membuatnya trauma kembali terjadi. “Kalau kelihatannya anak sulit mengekspresikan atau mengungkapkan perasaannya, mungkin butuh bantuan profesional guna mencari sumber trauma anak dan menyembuhkannya,” tandas Ayoe.

[OKZ/AS]

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Berita

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Berita

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Berita

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Berita

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Berita

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Berita

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo