digtara.com -Harga laptop Windows diprediksi kembali mengalami kenaikan secara global dalam waktu dekat. Kenaikan tersebut bukan disebabkan oleh kelangkaan RAM atau komponen perangkat keras, melainkan perubahan biaya lisensi sistem operasi Windows yang dibebankan kepada produsen laptop.
Sebelumnya, industri PC memang menghadapi tekanan akibat meningkatnya permintaan komponen memori seiring pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Kondisi tersebut turut mendorong
harga RAM dan memori PC.
Namun, kali ini faktor yang berpotensi membuat harga laptop naik berasal dari sisi perangkat lunak.
Microsoft Naikkan Harga Lisensi Windows untuk Produsen LaptopMengutip TechPowerUp, potensi kenaikan harga laptop berkaitan dengan perubahan kebijakan Microsoft terhadap lisensi Windows untuk produsen komputer atau Original Equipment Manufacturer (OEM).
Berdasarkan laporan media Taiwan UDN, Microsoft telah mengirimkan pemberitahuan kepada para mitra manufakturnya terkait perubahan biaya lisensi Windows.
Tarif lisensi yang dibebankan kepada produsen dilaporkan meningkat sekitar 7 persen hingga 10 persen.
Baca Juga: 5 Merek Laptop Terbaik 2026 yang Paling Dipercaya di Indonesia
Kenaikan tersebut dinilai cukup signifikan dibandingkan penyesuaian tarif pada tahun-tahun sebelumnya.
Microsoft memang diketahui secara berkala melakukan penyesuaian biaya lisensi
Windows, tetapi kenaikannya biasanya berada pada tingkat yang lebih rendah.
Besaran biaya secara pasti tidak diketahui karena Microsoft menerapkan kontrak yang berbeda dengan setiap produsen.
Produsen Besar Bisa Mendapat Harga Lisensi Lebih KompetitifProdusen laptop dengan volume produksi besar seperti Dell, HP, ASUS, dan Acer diperkirakan memiliki posisi negosiasi yang lebih kuat.
Skala produksi yang tinggi memungkinkan perusahaan besar mendapatkan kesepakatan lisensi yang lebih kompetitif dibandingkan produsen dengan kapasitas produksi lebih kecil.
Sebaliknya, produsen yang menjual laptop dalam jumlah lebih sedikit berpotensi merasakan dampak kenaikan biaya lisensi secara lebih besar.
Meski besaran dampaknya dapat berbeda antara satu produsen dan lainnya, kenaikan biaya lisensi tersebut berpotensi memengaruhi harga perangkat
Windows di pasar.
Harga Laptop Windows Berpotensi Ikut NaikKenaikan biaya lisensi pada akhirnya dapat menjadi tambahan beban bagi produsen laptop. Biaya tersebut berpotensi diperhitungkan ke dalam harga jual perangkat kepada konsumen.
Dengan demikian, harga laptop Windows dan komputer desktop berbasis Windows berpotensi menjadi lebih mahal dalam waktu dekat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi konsumen yang sedang merencanakan pembelian laptop baru, terutama jika produsen mulai memasukkan kenaikan biaya lisensi ke dalam harga perangkat.
Microsoft sendiri disebut tengah melakukan investasi besar pada pengembangan perangkat lunak. Perusahaan terus melakukan pembaruan terhadap Windows 11 untuk meningkatkan pengalaman pengguna dan memperbaiki sejumlah persoalan pada pembaruan sebelumnya.
Baca Juga: 4 Tips Meeting Online Lebih Profesional dengan Windows Studio Effects
Harga Windows 11 untuk Pengguna Individu Belum BerubahDi tengah kenaikan biaya lisensi untuk produsen, harga lisensi
Windows untuk pengguna individu dan perakit PC mandiri dilaporkan masih tetap.
Windows 11 Home masih dibanderol 139 dolar AS, sedangkan
Windows 11 Pro berada di harga 199 dolar AS.
Artinya, potensi kenaikan harga laptop saat ini lebih berkaitan dengan biaya lisensi yang dibayarkan produsen kepada Microsoft, bukan kenaikan harga lisensi Windows eceran untuk pengguna individu.
Jika kenaikan biaya OEM benar-benar diteruskan ke konsumen, pembeli laptop Windows perlu bersiap menghadapi harga perangkat yang lebih tinggi.
Kondisi ini juga menunjukkan bahwa harga sebuah laptop tidak hanya dipengaruhi oleh komponen seperti RAM, prosesor, dan penyimpanan, tetapi juga biaya perangkat lunak yang menyertainya.
Baca Juga: 5 Merek Laptop Terbaik 2026 yang Paling Dipercaya di Indonesia