Serangan Siber Berbasis AI Meningkat, Investasi Keamanan Siber di Indonesia Diprediksi Melonjak

Arie - Sabtu, 10 Oktober 2026 14:35 WIB
net
Ilustrasi.

digtara.com -Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak hanya mempercepat inovasi teknologi, tetapi juga membuka peluang bagi pelaku kejahatan siber untuk melancarkan serangan secara lebih otomatis. Kondisi ini diperkirakan mendorong peningkatan investasi keamanan siber di Indonesia.

Presiden Direktur ITSEC Asia, Patrick Dannacher, mengatakan pemanfaatan AI oleh pelaku kejahatan siber membuat perusahaan perlu memperkuat sistem pertahanan digital. Teknologi yang digunakan untuk meningkatkan keamanan juga berpotensi dimanfaatkan untuk mengotomatisasi serangan.

"Teknologi yang sama-sama digunakan untuk memperkuat pertahanan kini juga dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk mengotomatisasi serangan," ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta.

Menurut Patrick, AI memungkinkan penyerang mempercepat pemindaian kelemahan sistem dan menjalankan aktivitas berbahaya dalam skala yang lebih besar. Akibatnya, perusahaan menghadapi tantangan baru dalam mendeteksi dan menangani ancaman yang terus berkembang.

Ia menilai metode keamanan konvensional perlu disesuaikan agar mampu menghadapi pola serangan yang semakin cepat dan kompleks.

Keamanan Siber Berbasis AI Jadi Kebutuhan PerusahaanPatrick menilai meningkatnya risiko serangan berbasis AI akan mendorong adopsi teknologi pertahanan siber yang lebih adaptif. Otomatisasi menjadi salah satu kebutuhan penting agar perusahaan dapat merespons ancaman dengan lebih cepat.

Baca Juga: 16 Serangan Siber per Detik Mengincar Indonesia, Naik 93 Persen pada Semester I 2026

"Pendekatan tradisional yang mengandalkan proses manual dinilai tidak lagi memadai untuk menghadapi serangan yang dapat dijalankan secara otomatis dan berulang," ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, perusahaan perlu mempertimbangkan penggunaan teknologi AI untuk membantu mengidentifikasi kelemahan sistem, mendeteksi aktivitas mencurigakan, dan mempercepat respons terhadap insiden keamanan.

Sistem pertahanan yang mampu bekerja secara otomatis juga dinilai penting untuk mengimbangi kecepatan serangan. Meski demikian, penerapan teknologi baru tetap perlu disertai pengawasan, evaluasi risiko, dan prosedur penanganan insiden yang memadai.

Ancaman Serangan Siber Dorong Investasi TeknologiPeningkatan risiko serangan digital turut memengaruhi arah investasi industri keamanan siber. Perusahaan tidak hanya membutuhkan perangkat untuk mendeteksi ancaman, tetapi juga sistem yang dapat membantu mencegah serangan dan meminimalkan dampaknya.

Menurut Patrick, pertumbuhan permintaan terhadap layanan keamanan siber menjadi salah satu indikator meningkatnya kebutuhan investasi di sektor tersebut.

Komitmen investasi, lanjutnya, dapat terlihat dari pendanaan yang masuk ke perusahaan keamanan siber, aktivitas modal ventura, hingga berbagai proyek pengembangan teknologi perlindungan digital.

Ia memperkirakan investasi di bidang keamanan siber akan meningkat signifikan seiring bertambahnya risiko serangan dan kebutuhan perusahaan untuk memperkuat pertahanan digital.

Namun, proyeksi tersebut belum disertai angka pertumbuhan investasi atau nilai pasar tertentu dalam keterangan yang disampaikan.

ITSEC Asia Soroti Pentingnya Pertahanan DigitalITSEC Asia menyoroti perlunya perusahaan menyesuaikan strategi keamanan dengan perkembangan teknologi dan pola serangan. Ketergantungan yang semakin besar terhadap infrastruktur digital membuat perlindungan sistem menjadi bagian penting dari pengelolaan risiko bisnis.

Baca Juga: 4 Cara Cerdas Mengelola Keuangan di Era Digital dengan Bantuan AI

Ke depan, kebutuhan keamanan siber diperkirakan tidak lagi terbatas pada perangkat perlindungan konvensional. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan solusi yang mampu mendeteksi ancaman secara lebih cepat, mengotomatisasi respons, dan menyesuaikan pertahanan dengan perkembangan serangan.


"Ketika AI membuat serangan semakin cepat dan mudah diotomatisasi, investasi pada pertahanan siber menjadi kebutuhan strategis bagi perusahaan yang bergantung pada infrastruktur digital," pungkas Patrick.

Perkembangan AI dengan demikian menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi industri keamanan siber. Di satu sisi, teknologi tersebut dapat memperbesar skala ancaman; di sisi lain, AI berpotensi memperkuat kemampuan perusahaan dalam mendeteksi dan merespons serangan digital.

Catatan editorial: Naskah sumber belum mencantumkan data kuantitatif mengenai nilai investasi, proyeksi pertumbuhan pasar, atau periode kenaikannya. Karena itu, artikel menggunakan frasa diprediksi meningkat berdasarkan pernyataan Patrick Dannacher, tanpa menyajikannya sebagai angka pertumbuhan yang telah terverifikasi.


Tag:

Berita Terkait

Gaya

16 Serangan Siber per Detik Mengincar Indonesia, Naik 93 Persen pada Semester I 2026

Gaya

4 Cara Cerdas Mengelola Keuangan di Era Digital dengan Bantuan AI

Gaya

Awas! Serangan Siber Berbasis AI Diprediksi Meningkat Tahun Ini

Gaya

Keamanan Siber Indonesia Peringkat ke-24 dari 194 Negara Dunia

Gaya

Waspada! Layanan Keuangan Jadi Target Empuk Serangan Siber

Gaya

Google memutuskan untuk tidak menjual teknologi Artificial intelligence dan facial recognition