Heboh Dipersekusi di Medan, Bagaimana Hukum Kuda Kepang dalam Pandangan Islam?

Arie - Jumat, 09 April 2021 02:30 WIB

digtara.com – Keributan sekelompok orang dari organisasi Forum Umat Islam (FUI) dengan masyarakat saat pertunjukan kuda lumping (kuda kepang, red) viral di media sosial. Bagaimana Hukum Kuda Kepang dalam Pandangan Islam?

Diketahui, kejadian terekam di Jalan Merpati Kelurahan Sei Sikambing B Kecamatan Medan Sunggal, pada Jumat 2 April 2021, sore.

Pengakuan warga setempat, kuda kepang itu diundang sengaja diundang dalam rangka menyambut bulan Ramadan. Warga juga mengadakan dapur umum untuk acara makan bersama.

Kesenian Kuda Kepang atau Jaran Kepang atau Kuda Lumping sebenarnya tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda.

Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang dianyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda.

Baca: Kronologi FUI Bubarkan Acara Kuda Lumping Hingga Bentrok di Medan

Beberapa penampilan Kuda Lumping menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut.

Kesenian ini tak hanya digelar di pulau Jawa saja, namun terbawa oleh transmigran ke pulau Sumatera, bahkan negara tetangga Malaysia.

Baca: Pasca Pembubaran Kuda Kepang, DPW Pujakesuma Minta Masyarakat Tetap Kondusif

Lantas, bagaimanakan hukum Kuda Kepang menurut pandangan Islam?

Islam telah jelas menyebutkan bahwa sesuatu yang mengandung unsur jin dan kemusyrikan hukumnya adalah haram.

Unsur penggunaan jin biasanya menyebabkan seseorang tidak sadarkan diri. Hal ini berpotensi dapat membahayakan dirinya ataupun orang lain.

Sebagian fenomena Jaran kepang diduga adalah bagian dari bentuk sihir.

Dengan demikian hukumnya ditafsil (diperinci), Pertama, jika wasilah untuk menjadikan orang kesurupan itu hal-hal yang mengandung kekufuran maka hukumnya kufur. Kedua, jika jampi-jampinya berupa hal-hal yang haram, maka hukumnya haram. Ketiga, jika Jaran Kepang itu berdampak negatif atau membahayakan (dirinya atau orang lain) maka hukumnya haram. Jika tidak berbahaya, maka hukumnya boleh. (al-Fiqh’ala Al-Madzahib al-Arba’ah, 5/460-461)

.قال الإمام النووي رحمه الله تعالى : عمل السحر حرام وهو من الكبائر بالإجماع وقد عدهالرسول صلوات الله وسلامه عليه من الموبقات السبع ومن السحر ما يكون كفرا ومنه مالا يكون كفرا بل معصية كبيرة فإن كان فيه قول أو فعل يقتضي الكفر فهو كفر وإلا فلا, المالكية رحمهم الله قالوا : الساحر كافر يقتل بالسحر ولا يستتاب بل يتحتم قتله كالزنديق :قال عياض : وقول مالك قال أحمد وجماعة من الصحابة والتابعين وذلك فيمن عمل بهللباطل والشر أمامن تعلمه لفك المسحور ومنع الأذى عنه أو تعلمه للعلم فقط ولم يعمل به فهو جائز وقدسئل الإمام أحمد عمن يطلق السحر عن المسحور فقال : لا بأس به وهذا هو المعتمد فحكمالسحر تابع للقصد فمن فصد به الخير جاز له وإلا حرم عليه إلا أن أدى إلى الشركوإلا كان كافرا ولايقتل الساحر إلا أن يقتل أحدا بسحره ويثبت عليه بإقراره وأما إذا كان ذميا وأوصلبسحره ضررا لميلم يكون قد نقض العهد ويحل قتله وإنما لم يقتل النبي صلى الله عليهو سلم لبيد بن الأعصم على سحره وقد كان ذميا لأنه صلى الله عليه و سلم كان لاينتقم لنفسه ولأنه خشي إذا قتل لبيد بن الأعصم أن تقوم فتنة بين المسلمين فيالمدينة. لأنه كان من بين زريق وهم بطن منالأنصار مشهور من الخزرج وكان الناس حديثي بالإسلام.

Keharaman tersebut bukanlah dari dalam keseniannya itu sendiri, melainkan ada faktor yang menyebabkan timbulnya keharaman tersebut.

Jika kesenian tersebut tidak mengandung hal-hal yang melanggar syariat dan bertujuan melestarikan budaya, maka hukumnya boleh.

Seperti kutipan dalam al-fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, 5/406.قال الإمام النووى رحمه الله تعالى : عمل السحر حرام وهو من الكبائر وقد عدها رسو ل الله صلوات وسلامه عليه من الموبقات السبع، ومن السحر ما يكون كفرا ومنه مالا يكون كفرا، بل معصية كبيرة فإن كان فيه قول او فعل يقتضى الكفر فهو كفر وإلا فلا.

“Imam Nawawi rahimahullah ta’ala: perbuatan sihir adalah haram itu merupakan dari dosa-dosa besar dan Rasulullah saw telah memasaukkannya ke dalam tujuh ketetapan. Ada sihir yang menjadikan kafir ada juga sihir yang hanya masuk kedalam dosa maksiat yang besar, jika di dalamnya ada ucapan atau perbuatan yang menjerumuskan ke kekafiran maka itu kafir jika tidak maka bukanlah kekafiran.”

Editor
: Arie

Tag:

Berita Terkait

Hukum

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Hukum

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Hukum

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Hukum

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Hukum

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Hukum

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo