digtara.com -Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah muncul laporan serangan balasan masif yang dilancarkan Iran terhadap sejumlah instalasi militer Amerika Serikat dan sekutunya.
Serangan ini disebut sebagai respons langsung Iran atas aksi militer yang sebelumnya dikaitkan dengan Israel, dengan dugaan keterlibatan Amerika Serikat dalam operasi tersebut.
Rudal Balistik Hantam Empat Negara
Berdasarkan informasi yang beredar, rudal balistik Iran dilaporkan menghantam sejumlah titik strategis di empat negara, yakni Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain pada Sabtu, 28 Februari 2026 waktu Indonesia.
Baca Juga: BWI Kota Semarang Gencarkan Pendataan dan Pemutakhiran Wakaf, Target 750 Titik Tahun Ini Beberapa pangkalan militer yang disebut menjadi sasaran antara lain:
Pangkalan Udara Al Udeid di QatarPangkalan Al Salem di KuwaitPangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat ArabPangkalan Armada ke-5 AS di BahrainInformasi tersebut turut dikonfirmasi oleh akun media sosial Arya melalui unggahan di platform X.
Ledakan Keras Terdengar di Bahrain
Salah satu serangan paling signifikan dilaporkan terjadi di Bahrain yang menjadi markas Armada ke-5 Angkatan Laut Amerika Serikat. Laporan lapangan menyebutkan terdengar beberapa dentuman keras yang mengguncang wilayah sekitar pangkalan militer.
Unggahan lanjutan dari sumber yang sama menyebutkan adanya tiga ledakan yang terjadi secara beruntun di area tersebut.
Baca Juga: Mati Mesin, Sembilan Penumpang Kapal Phinisi Dievakuasi Dalam Keadaan Selamat Sementara itu, di Uni Emirat Arab, Pangkalan Udara Al Dhafra yang selama ini menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika Serikat juga dilaporkan terdampak serangan rudal.
Rekaman amatir yang beredar di media sosial memperlihatkan gumpalan asap besar membumbung tinggi ke udara setelah rudal menghantam instalasi militer.
Eskalasi Konflik Iran dan AS Meningkat
Serangan ini dinilai sebagai eskalasi signifikan dalam konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah, terutama karena wilayah ini merupakan jalur vital perdagangan energi dunia.
Hingga saat ini, otoritas maupun militer Amerika Serikat belum memberikan pernyataan resmi terkait dampak kerusakan maupun potensi korban jiwa akibat serangan tersebut.
Perkembangan situasi masih berlangsung dan dunia internasional menaruh perhatian besar terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan strategis tersebut.
Baca Juga: BWI Kota Semarang Gencarkan Pendataan dan Pemutakhiran Wakaf, Target 750 Titik Tahun Ini