Nabung 40 Tahun, Penjual Daun Pisang Asal Wonosobo Naik Haji

Haji 2026
Ahsan Fauzi - Minggu, 17 Mei 2026 23:16 WIB
Ahsan Fauzi / MCH 2026
Painah jemaah kloter YIA 22, penjual daun pisang asal Wonosobo saat tiba di Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah bersiap naik bus untuk ke Makkah

digtara.com - Painah, 65 tahun, jemaah asal kloter YIA 22 menjadi pusat perhatian saat tiba di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Minggu (17/05/2026) pukul 12.00 WAS. Sosok penjual daun pisang asal Dusun Ngegok, Wonosobo Barat itu akhirnya menapakkan kaki di tanah suci setelah puluhan tahun menabung dari hasil lembar demi lembar daun pisang memenuhi panggilan Ilahi menjalankan ibadah haji tahun ini.Painah terbang bersama 360 orang terdiri atas 354 jemaah dan enam petugas dengan pesawat Garuda Indonesia GA-6522 lepas landas dari Yogyakarta International Airport pukul 05.40 WIB. Painah tercatat di rombongan 6, yang ditempatkan di Sektor 8 Makkah, tepatnya di Number One Hotel 1.

Bagi sebagian orang, perjalanan haji mungkin dimulai dari ruang tunggu bandara. Bagi Painah, perjalanan itu dimulai jauh lebih pagi, bertahun-tahun lalu, saat ia berjalan kaki menuju pasar dini hari sambil menggendong tumpukan daun pisang dari kebunnya sendiri.

Sejak pukul 01.30 dini hari, dia sudah berangkat membawa ikatan daun pisang untuk dijual ke Pasar Pagi Wonosobo. Aktivitas itu telah ia lakoni selama puluhan tahun sebagai sumber penghidupan sekaligus jalan mengumpulkan biaya haji.

"Saya itu buruh. Buruh memetik daun, setiap hari tidak pernah telat. Itu sudah lebih dari 40 tahun," ujar Painah kepada tim Media Center Haji (MCH) 2026 di Bandara Jeddah.

Dia menuturkan, daun pisang yang dipetik kemudian dilipat, ditimbang per kilogram, lalu dimasukkan ke dalam karung sebelum dibawa ke pasar. Selama ini, hasil dari berjualan daun pisang menjadi satu-satunya sumber pendapatan yang dia andalkan.

"Kalau sekarang memetik, lalu dilipat, ditimbang satu kilo satu kilo, lalu dimasukkan ke karung terus dijual ke pasar. Dari itu jualan daun, tidak lain-lain," akunya.

Baca Juga: Singgih Januratmoko: Kolaborasi Lintas Sektor Tingkatkan Pelayanan Kunci Sukses Penyelenggaraan Haji

Harga daun pisang yang dijual berkisar Rp 2 ribu hingga Rp 5 ribu per kilogram.

Penghasilannya pun tidak menentu. Dalam sehari, dia kadang hanya membawa pulang Rp 15 ribu, namun pada hari tertentu bisa mencapai Rp 200 ribu.

Painah menyisihkan sebagian uang hasil jualannya untuk tabungan haji.

Dia mengaku mulai mendaftar haji sejak tahun 2012 dan terus menabung sedikit demi sedikit dari hasil berdagang di pasar.

"Uangnya dikumpulkan di rumah. Kalau jualan kadang dapat Rp 200 ribu, kadang Rp 100 ribu, kadang Rp 50 ribu, kadang Rp 15 ribu. Saya jualan berangkat jam setengah dua dini hari sampai menjelang Subuh," tuturnya.

Setelah berdagang pagi hari, dia menitipkan daun pisang ke sejumlah warung hingga siang. Jika dahulu stok daun diambil dari pengepul, kini sebagian kebutuhan dagang sudah berasal dari kebun pisang miliknya sendiri. Selama 14 tahun menunggu antrean keberangkatan, Painah mengaku sempat khawatir tidak sempat berangkat ke Tanah Suci karena faktor usia.

Dia bahkan sempat berpikir tabungan hajinya mungkin hanya akan digunakan untuk biaya perawatan jika sakit atau meninggal sebelum berangkat.

"Remen sanget (senang sekali) bisa sampai tanah suci menjalankan ibadah haji," ungkap Painah dengan rasa penuh syukur.

Painah pergi haji tak sendiri. Ia ditemani sang putra, Sabar Munasir, 33 tahun. Sabar menggantikan Bapaknya karena dinyatakan tidak istithaah. "Saya menggantikan Bapak. Bapak tidak lolos istithaah," ucap Sabar.

Sabar menambahkan ibunya menabung selama ini pakai uang recehan. "Daftar haji pakai uang receh. Uang receh dikumpulkan untuk menabung haji. Ibu sudah bertahun-tahun (puluhan tahun) menabung demi untuk haji," tambahnya.

Baca Juga: Tren Kesiapan Ihram Jemaah Gelombang 2 di Bandara Jeddah Makin Tertib

Dari kisah Painah ini menjadi bukti bahwa jalan menuju Baitullah tidak selalu dibangun oleh kemewahan, melainkan oleh ketekunan, kesabaran, dan keyakinan yang dijaga dalam waktu panjang. (San).


Editor
: Ahsan Fauzi

Tag:

Berita Terkait

Internasional

Singgih Januratmoko: Kolaborasi Lintas Sektor Tingkatkan Pelayanan Kunci Sukses Penyelenggaraan Haji

Internasional

Tren Kesiapan Ihram Jemaah Gelombang 2 di Bandara Jeddah Makin Tertib

Internasional

Jelang Puncak Haji, Kemenhaj Fokus Layani Jemaah di Makkah

Internasional

Berbekal Video-video Sederhana, Moh Kamil Jemaah Asal Madura Mantapkan Diri Pilih Berhaji Mandiri

Internasional

Jelang Puncak Haji, Kemenhaj Fokus Layani Jemaah di Makkah

Internasional

Bimbad PPIH Daker Bandara Ajak Semua Petugas Haji Beri Pendampingan Optimal bagi Jemaah Berkebutuhan Khusus