digtara.com - Rustiningsih, jemaah haji kloter SOC 45 Solo - Kabupaten Blora punya pengalaman spritual yang dalam dan menarik saat pelaksanaan haji 2026 ini.Meski bukan orang tua, saudara atau tetangga, tapi dengan telaten dan sabar mendampingi jemaah lanjut usia, Mbah Juyatmi Trunojoyo yang telah berusia 85 tahun selama di tanah suci.
"Saya tak kuasa menahan air mata ketika mengenang kebersamaan dengan Mbah Juyatmi selama ibadah haji," kata
Rustiningsih kepada tim Media Center Haji sambil menangis tersedu-sedu di Bandara Internasional Prince Mohammed Bin Abdulaziz, Madinah, Arab Saudi, Selasa (16/06/2026).
Rustiningsih yang berangkat menunaikan ibadah haji bersama sang suami Mohammad Annas mengaku bersyukur karena pelayanan haji tahun ini berjalan dengan sangat baik.
"Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Kementerian Haji dan Umrah karena tahun ini pelayanan sangat bagus sekali," ujarnya.
Menurut Rustiningsih, pelayanan yang diterima jemaah mulai dari hotel di Makkah hingga Madinah membuat dirinya merasa nyaman dan bahagia selama berada di Tanah Suci.
"Dari hotelnya sampai di Madinah, kami merasa bahagia. Tahun ini menjadi tahun yang paling istimewa bagi kami," akunya.
Baca Juga: Fase Pemulangan Gelombang II dari Madinah Dimulai, 48 Persen Jemaah Telah Tiba di Tanah Air
Di tengah perjalanan ibadah haji,
Rustiningsih dipertemukan dengan
Mbah Juyatmi Trunojoyo, seorang jemaah lansia asal Blora berusia 85 tahun.
Meski berasal dari regu yang berbeda, keduanya menempati kamar yang sama.
Pertemuan itu kemudian menghadirkan kisah penuh kepedulian dan kasih sayang.
Rustiningsih melihat Mbah Juyatmi tidak memiliki pendamping khusus selama menjalankan ibadah.
Kondisi tersebut membuat hatinya tergerak untuk membantu.
"Saya kasihan sekali kepada Mbah Juyatmi. Saya menganggap beliau seperti ibu saya sendiri," ucapnya sambil menahan tangis.
Sejak saat itu, Rustiningsih berusaha mendampingi Mbah Juyatmi dalam berbagai aktivitas selama pelaksanaan ibadah haji.
Ia membantu kebutuhan sehari-hari sang lansia hingga proses kepulangan ke Tanah Air.
Baginya, mendampingi jemaah lansia bukanlah beban, melainkan bentuk pengabdian dan kesempatan untuk berbuat kebaikan di Tanah Suci.
"Selama ini saya mendampingi beliau sampai pulang. Saya tidak bisa berkata-kata lagi. Semoga ini menjadi amal ibadah saya selama di Tanah Suci, dengan jalan ini semoga haji saya mabrur, " tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Baca Juga: Ketua Musyrif Diny 2026: Dorong Peningkatan Layanan Tarwiyah dan Perketat Istitaah Haji Kisah
Rustiningsih menjadi gambaran semangat gotong royong dan kepedulian yang tumbuh di antara jemaah haji Indonesia.
Di tengah jutaan umat Islam yang berkumpul dari berbagai negara, nilai kemanusiaan dan saling membantu tetap menjadi bagian penting dari perjalanan spiritual di Tanah Suci.
Tangis haru Rustiningsih pun menjadi penutup manis perjalanan hajinya tahun ini, sekaligus pengingat bahwa ibadah haji bukan hanya tentang hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga tentang kepedulian kepada sesama. (San).