digtara.com - Kehadiran Gus-gus muda dari kalangan pesantren yang memahami perkembangan fikih ibadah haji kontemporer sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan haji modern di masa mendatang, mengingat perubahan dan perkembangan pengelolaan haji terus berjalan.Kehadiran mereka dianggap penting untuk menjawab berbagai persoalan baru yang muncul dalam pelaksanaan haji modern mendatang.
Hal tersebut disampaikan Petugas Haji Daerah (PHD) Kabupaten Wonosobo, Khoirulloh, saat ditemui di Mirage Taiba Hotel, Madinah, Sabtu (20/6/2026) sore.
Menurut Gus Khoir, sapaan akrab Khoirulloh, penyelenggaraan haji tahun 2026 menunjukkan sejumlah perubahan yang membuat pelayanan kepada jemaah semakin nyaman dan terorganisir.
"Transformasi yang dilakukan Kementerian Haji dan Umrah sudah mulai dirasakan. Jemaah merasakan pelayanan yang lebih nyaman dan fasilitas yang semakin baik dibanding sebelumnya," ujarnya.
Namun, di balik perubahan tersebut, Gus Khoir melihat masih ada tantangan dalam pelaksanaan manasik haji yang diberikan kepada calon jemaah. Menurutnya, sebagian Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) masih menggunakan materi dan pendekatan yang mengacu pada kondisi pelaksanaan haji beberapa tahun lalu.
Padahal, lanjutnya, situasi di Tanah Suci terus berubah. Baik di Makkah maupun Madinah, berbagai kebijakan, fasilitas, hingga skema pergerakan jemaah mengalami penyesuaian yang memerlukan pemahaman baru dari para pembimbing maupun calon jemaah.
Baca Juga: Harmonisasi Kemenag-Kemenhaj, Wonosobo Layak Jadi Percontohan
"Kadang materi manasik masih mengacu pada kondisi lima atau sepuluh tahun lalu. Sementara praktik di lapangan saat ini sudah sangat berbeda. Karena itu perlu pembaruan materi yang sesuai dengan kondisi terkini," katanya.
Pembimbing KBIHU Al Mansur Wonosobo ini mencontohkan pelaksanaan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) yang kini mengenal berbagai skema baru seperti murur dan tanazul. Menurutnya, kebijakan tersebut memerlukan penjelasan fikih yang kontekstual agar jemaah memahami alasan dan tata cara pelaksanaannya sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Gus Khoir menilai tokoh-tokoh muda pesantren, termasuk para gus muda yang memiliki kompetensi dalam fikih kontemporer, dapat menjadi bagian penting dalam memperbarui materi manasik. Selain memahami kitab-kitab klasik, mereka juga dinilai mampu menjelaskan persoalan kekinian dengan bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat.
"Kalau materi-materi kontemporer ini sudah diberikan sejak manasik, jemaah akan lebih siap dan tidak kaget ketika menghadapi kondisi yang sebenarnya di lapangan," jelasnya.
Menurutnya, pengalaman pada musim haji 2026 menunjukkan bahwa keberadaan tokoh muda pesantren sangat membantu petugas dalam memberikan pendampingan kepada jemaah. Mereka mampu menjembatani berbagai persoalan fikih yang muncul selama pelaksanaan ibadah serta membantu menjelaskan kebijakan baru kepada jemaah.
Karena itu, Gus Khoir berharap Kementerian Haji ke depan semakin membuka ruang bagi keterlibatan generasi muda, khususnya dari kalangan pesantren, dalam penyelenggaraan haji. Dengan demikian, KBIHU sebagai mitra pemerintah dapat terus beradaptasi dengan perkembangan zaman dan menghadirkan bimbingan yang relevan dengan kebutuhan jemaah masa kini.
"Kami berharap tokoh-tokoh muda yang aktif di bidang fikih ibadah dapat lebih banyak dilibatkan. Dengan begitu KBIHU akan semakin update, adaptif, dan mampu menjadi mitra strategis Kementerian Haji dan Umrah dalam memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah," pungkasnya. (San).