digtara.com - Hari ini, saya berkunjung ke rumah salah satu Jamaah Haji 2026 di Serdang Bedagai. Nek Sania (72 thn) namanya. Beliau janda, dan tinggal menumpang dirumah anaknya di Serang Bedagai.Nek Sania adalah jamaah haji yang berangkat haji tahun 2026, beliau adalah buruh cuci.
2014 lalu mendaftarkan diri menjadi jamaah haji dari uang pemberian anak-anaknya.
2026 panggilan untuk berangkat pun datang, agar bisa berangkat Nek Sania berhutang ke banyak pihak, agar bisa tetap berangkat. Akhirnya, beliau berangkat haji tahun ini, dan hutangan tersebut.
Kami Kemenhaj mendata kondisi jamaah-jamaah haji kami, banyak seperti Nek Sania ini.
Mungkin bagi banyak orang, ngapain sih sampai hutang? Ngapain sih memaksakan diri bila tak mampu secara material?
Pikiran banyak orang tersebut tak salah. Benar secara syariat, karena haji disyaratkan bagi yang mampu.
Baca Juga: Kepulangan Jemaah Haji Capai Lebih dari 121 Ribu, Kemenhaj Ajak Jaga Nilai Haji Sepanjang Hayat
Namun, itulah spirit keberagamaan khas Indonesia. Haji bagi beliau-beliau adalah puncak penyempurnaan spiritualisme, dan seringkali spiritualisme tidak selalu bisa sekedar dimaknai secara syariat, banyak yang juga yang memaknainya secara hakikat bahkan makrifat.
Tidak semua unsur dalam spiritualisme bisa dirasionalisasi, ada hal-hal yang ghaib dimaknai secara batin, sama halnya dengan Cinta, seringkali cinta tak bisa dirasionalisasi. Maka ada ungkapan "Cinta itu Buta". Mahabatullah, kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT diekspresikan seorang Nek Sania dengan "memaksakan diri agar mampu naik haji".
Saya sering menyebutnya, ada orang yang mampu naik haji tapi ada juga berusaha dan memampukan diri naik haji sehingga semua upaya halal dilakukan meskipun secara syariat kewajiban mereka telah gugur sejatinya. Namun, cinta kepada Allah dan Nabinya tidak bisa doreduksir dengan sekedar rasionalitas syariat.
Akhirnya, atas perintah Presiden @prabowo kami mendata jamaah-jamaah haji seperti Nek Sania ini, agar bebannya diringankan, agar hutangnya terbayarkan. (San).