digtara.com - Apresiasi pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 tidak hanya datang Presiden, lintas kementerian dan dari kalangan Dewan saja. Apresiasi kali ini datang dari tokoh dan pelaku haji, yakni: Ketua Pengurus Daerah Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kabupaten Wonosobo, Drs. KH. Muslim Syaefuddin.Kiai Muslim Syaefuddin menyatakan, bahwa penyelenggaraan haji tahun ini merupakan yang terbaik dari seluruh pengalamannya menunaikan ibadah ke Tanah Suci.
"Saya haji sudah lima kali. Dari beberapa kali saya ikut haji, bagi kami tahun ini merupakan yang terbaik," ujar Kiai Muslim Syaefuddin kepada tim Media Center Haji (MCH), Senin (22/06/2026).
Pria yang tercatat sudah lima kali melaksanakan ibadah haji ini mengaku sangat merasakan perubahan signifikan dalam manajemen pelayanan yang dikomandoi oleh Kementerian Haji dan Umrah yang baru.
Salah satu perubahan paling mencolok yang dirasakan jemaah pada musim haji 2026 ini berada di kawasan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Ia menyebutkan bahwa fasilitas tenda untuk jemaah kini jauh lebih manusiawi dan nyaman dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Di Armuzna lebih-lebih itu, alhamdulillah, berkasur ya tahun ini saja. Kalau yang dulu kan, empat kali (haji sebelumnya) belum pernah ada fasilitas kasur-kasuran. Termasuk AC-nya juga luar biasa," ungkapnya dengan nada penuh syukur.
Tak hanya di Armuzna, pelayanan akomodasi hotel di Madinah juga dinilai sudah sangat baik dan memadai bagi para jemaah. Walaupun sempat ada selentingan mengenai fasilitas hotel di lokasi lain, bagi Kiai Muslim, kualitas pelayanan secara keseluruhan tetap menjadi yang terbaik yang pernah ia rasakan.
Baca Juga: Hari Ke-62 Operasional Haji, 66 Persen Jemaah Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air
Kendati memberikan rapor hijau untuk fasilitas tidur dan pendingin ruangan, Ketua
IPHI Wonosobo ini juga memberikan catatan evaluasi yang membangun terkait konsumsi.
Menurutnya, menu makanan yang disediakan bagi jemaah dirasa kurang bervariasi selama di Tanah Suci.
"Hanya soal makannya ini perlu saya sampaikan, kok bahasa Jawanya ajeg-ajeg (itu-itu saja) saja. Kurang variatif," tuturnya sembari berkelakar agar ke depannya jemaah diberikan ruang atau kesempatan untuk memasak sendiri demi menyiasati rasa bosan (jenuh).
Menutup perbincangan, Kiai Muslim Syaefuddin berharap agar manajemen prima yang telah ditunjukkan oleh Kementerian Haji dan Umrah yang baru ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan di masa mendatang.
"Mudah-mudahan ini bisa dipertahankan, dan Kemenhaj yang baru ini bisa berjalan dengan baik. Mudah-mudahan selalu mendapatkan barokah, manfaat dunia dan akhirat," pungkasnya. (San).