digtara.com - Bagi jemaah haji atau umrah dari berbagai negara, utamanya dari Indonesia rasanya tidak lengkap apabila tak berkunjung ke Kebun Kurma. Kebun yang kini jadi favorit adalah kebun kurma Abdurrahman bin Auf, kebun ini berdiri diatas lahan seluas 10 hektare yang terletak di Awali dekat dengan Masjid Quba, Madinah. Di kebun ini, ada sumur yang disebut tidak pernah kering.
Di sela-sela hamparan kebun kurma, sejarah seolah tumbuh bersama batang-batang pohon yang menjulang ke langit. Buah kurma muda berwarna kuning keemasan bergantungan lebat di setiap tandan.
Di lokasi ini, para peziarah yang datang tak hanya menikmati kesegaran buah yang baru dipetik, tetapi juga menyusuri jejak masa lalu yang telah berusia lebih dari 14 abad.
"Jadi di sini ada kebun kurma yaitu Ajwa 350 pohon. Jumlah (pohon) ada 550, sisanya ada (kurma) Sukari, Medjool, Rabbea. Di sini juga ada sumurnya Abdurrahman bin Auf, yang sejarahnya didoakan Rasul. Ini adalah sumur yang tidak pernah kering karena ada doa dari Rasul," kata owner kebun kurma Abdurrahman bin Auf, Hasan Alkiwi, dalam bahasa Arab diterjemahkan oleh Asep AB, pengelola perkebunan itu kepada tim Media Center Haji (MCH) saat ditemui di lokasi, Kamis (18/06/2026) lalu.
Sumur tersebut diperkiarakan dibangun 1.400 tahun lalu dan hingga saat ini masih mengeluarkan air dan tidak pernah kering. Informasinya, sumur yang kedalamannya mencapai 60 meter itu pernah didoakan oleh Nabi Muhammad SAW, sehingga berkahnya mengalir hingga detik ini.
Sumur bersejarah ini memiliki cerita menyentuh yang melegenda, di mana air atau hasil dari area ini di masa lalu dikaitkan dengan kisah mahar berharga yang diberikan Abdurrahman bin Auf kepada sang istri saat mereka menikah. Selain memberikan air sumur tersebut, mahar sahabat yang kaya raya itu berupa emas dan dirham.
Baca Juga: Hj Neneng Siti Kholilah: Pentingnya Kedisiplinan Jemaah Sejak Berangkat Hingga Pulang
Keberadaan sumur ini menjadi salah satu magnet utama bagi para peziarah yang ingin napak tilas kehidupan sang sahabat yang kaya raya namun bersahaja. Debit airnya cukup besar sehingga dapat mengairi pohon kurma yang luasnya mencapai 10 ribu meter persegi.
"Kualitas airnya pun bagus dan bisa langsung diminum, masih terjaga sangat baik sampai dengan saat ini," ungkap Hasan.
Selain terdapat sumur, di perkebunan ini juga terdapat sebuah situs heritage yang menyimpan cerita kejayaan ekonomi sahabat Rasulullah SAW yang terkenal dengan kedermawanannya.
Saat menginjakkan kaki di kebun kurma ini, jemaah akan langsung disuguhi atmosfer masa lalu yang kental. Di area kebun, masih berdiri kokoh bangunan heritage bersejarah peninggalan era Turki Utsmani (Ottoman) yang diperkirakan telah berusia ribuan tahun.
Bangunan kuno ini menjadi saksi bisu bagaimana kawasan ini dirawat dari generasi ke generasi. Di sinilah bangunan yang dulunya menjadi tempat majelis para sahabat bersama Abdurahman bin Auf, lengkap dengan tembok asli peninggalan masa lalu yang masih dipertahankan hingga kini.
Sistem Pengairan Tradisional dan Sumur Berusia 1.400 Tahun
Tidak hanya bangunan, sistem pengairan di kebun ini pun masih mempertahankan nilai tradisional (old way) tanpa melibatkan mesin modern. Salah satu daya tarik utamanya adalah jalur aliran air kuno yang dahulu digunakan oleh sahabat Abdurrahman bin Auf untuk mengairi perkebunannya. Alur air bersejarah ini sengaja dipertahankan keasliannya agar jemaah dapat melihat langsung bukti autentik manajemen pengairan zaman dahulu.
"Tembok dan jalur air masa lalu itu masih kami pertahankan, selain juga jalur air baru yang kami buat untuk mengaliri kebun kurma ini," kata Hasan. (San).