digtara.com - Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Senin setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap fasilitas rudal Iran di Pulau Larak.
Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah, terutama karena Pulau Larak berada di kawasan strategis dekat Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak membuat kontrak berjangka minyak mentah Brent kembali menembus level psikologis USD 90 per barel.
Harga Minyak Brent dan WTI NaikHarga minyak mentah Brent tercatat melonjak USD 2,22 atau 2,52% menjadi USD 90,32 per barel pada pukul 22.02 GMT.
Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi salah satu acuan harga minyak Amerika Serikat, naik USD 2,01 atau 2,41% menjadi USD 85,41 per barel.
Lonjakan harga tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap keamanan jalur perdagangan minyak dunia di tengah eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: IHSG Ambles Tiga Hari Beruntun, Analis Ungkap Penyebab dan Proyeksi Pergerakan Pekan Depan
Pasar energi langsung merespons perkembangan geopolitik tersebut karena setiap gangguan terhadap jalur pelayaran di kawasan Teluk Persia berpotensi memengaruhi pasokan minyak global.
AS Serang Fasilitas Rudal IranMiliter Amerika Serikat mengonfirmasi serangan udara terhadap dua fasilitas peluncur rudal milik Iran di Pulau Larak pada Minggu.
Serangan tersebut menjadi salah satu eskalasi militer terbaru dalam konflik AS dan Iran yang telah berlangsung selama beberapa bulan.
Pejabat militer AS menyebut tindakan tersebut dilakukan setelah pasukan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran terpantau bersiap meluncurkan roket yang dilengkapi ranjau laut ke perairan Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis bagi perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut dapat meningkatkan risiko terhadap distribusi minyak mentah global.
Iran Siapkan BalasanSerangan AS terhadap fasilitas militer Iran juga meningkatkan risiko terjadinya aksi balasan.
Media pemerintah Iran melaporkan serangan drone AS di Pulau Larak menyebabkan korban jiwa dan korban luka, baik dari kalangan prajurit maupun warga sipil.
Pengawal Revolusi Iran kemudian menyatakan akan melakukan aksi balasan terhadap tindakan militer Amerika Serikat.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 23 Juli 2026 Diproyeksi Melemah, Bergerak di Kisaran Rp17.920–Rp17.970 per Dolar AS Perkembangan tersebut menjadi perhatian utama pasar karena eskalasi konflik berpotensi meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Selat Hormuz Jadi Perhatian PasarSebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa ranjau di perairan internasional
Selat Hormuz telah dibersihkan.
Trump juga menegaskan akan mengambil tindakan terhadap setiap upaya untuk kembali menempatkan ranjau di jalur pelayaran tersebut.
Bagi pasar minyak, keamanan Selat Hormuz menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhatikan. Ketegangan militer di sekitar kawasan tersebut dapat meningkatkan premi risiko dan mendorong harga minyak dunia bergerak lebih tinggi.
Lonjakan harga Brent ke atas USD 90 per barel menunjukkan bahwa pasar mulai memperhitungkan risiko geopolitik yang lebih besar terhadap pasokan energi.
Jika konflik AS dan Iran kembali meningkat atau aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terganggu, tekanan terhadap harga minyak berpotensi semakin kuat.
Sebaliknya, meredanya ketegangan militer dapat mengurangi kekhawatiran pasar dan membuka peluang bagi harga minyak untuk kembali stabil.
Baca Juga: IHSG Ambles Tiga Hari Beruntun, Analis Ungkap Penyebab dan Proyeksi Pergerakan Pekan Depan Untuk saat ini, investor masih akan mencermati perkembangan konflik serta respons Iran setelah serangan Amerika Serikat di Pulau Larak.