digtara.com - Eskalasi militer di Timur Tengah semakin memanas setelah kelompok Houthi asal Yaman yang bersekutu dengan Iran melancarkan gelombang serangan baru ke wilayah Arab Saudi pada awal pekan ini.
Situasi semakin tegang setelah negara-negara Teluk Arab menunda agenda perundingan dengan Iran. Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik sekaligus terganggunya rantai pasokan minyak dunia.
Kelompok Houthi mengonfirmasi telah meluncurkan puluhan rudal dan drone ke arah pangkalan udara militer di Khamis Mushait, wilayah selatan Arab Saudi.
Houthi mengklaim serangan tersebut menargetkan hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, serta gudang amunisi sebagai balasan atas operasi serangan udara Arab Saudi di Yaman.
Otoritas Arab Saudi kemudian mengeluarkan peringatan darurat di lokasi kejadian dan tiga kota lain di wilayah selatan.
Serangan tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah fasilitas pipa minyak East-West milik Arab Saudi mengalami kerusakan akibat serangan pada Jumat.
Baca Juga: ARab Saudi Diserang, Harga Minyak Dunia Melonjak 2,77 Persen, Brent Nyaris Tembus US$108 per Barel
Pipa East-West merupakan salah satu jalur alternatif penting bagi ekspor minyak dari kawasan Teluk ketika jalur pengiriman melalui
Selat Hormuz terganggu.
Houthi Perluas Pengaruh di Laut MerahSelain menyerang wilayah Arab Saudi, Houthi juga terus memperkuat pengaruhnya di sejumlah kawasan strategis Yaman.
Pekan lalu, kelompok tersebut dilaporkan berhasil merebut Pulau Perim yang berada di muara Selat Bab al-Mandab, salah satu akses penting menuju Laut Merah.
Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan dan pelayaran internasional di kawasan.
Tekanan terhadap negara-negara Teluk juga meningkat setelah serangkaian serangan yang dikaitkan dengan Houthi mengancam fasilitas dan jalur energi strategis.
Situasi tersebut turut menempatkan Amerika Serikat dalam posisi sulit. Washington mendapat tekanan dari sekutu-sekutunya di Teluk untuk membantu membendung pergerakan
Houthi, tetapi pada saat yang sama berupaya menghindari pembukaan front pertempuran baru dalam skala besar.
Berdasarkan sumber internal, Washington sejauh ini disebut masih menolak permintaan Arab Saudi untuk melakukan intervensi militer secara langsung. Dukungan AS disebut masih dibatasi pada berbagi informasi intelijen.
Sementara itu, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan menggelar pertemuan mendadak dengan Komandan Regional AS Laksamana Brad Cooper di Jeddah. Pertemuan tersebut membahas langkah-langkah untuk mengamankan kawasan.
Eskalasi pertempuran juga memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman. Badan Migrasi Internasional (IOM) mencatat sedikitnya 82.000 warga Yaman melarikan diri dari wilayah konflik sejak awal bulan ini, termasuk dari kota pelabuhan Mocha.
Perundingan Iran dan Negara Teluk DitundaPeluang penyelesaian secara diplomatik semakin suram setelah Kesultanan Oman mengumumkan penundaan pertemuan antara Iran dan negara-negara Teluk.
Baca Juga: AS Serang Iran Lagi, Harga Minyak Melambung di Atas USD 90 per Barel Pertemuan yang sebelumnya dijadwalkan pada Senin tersebut dirancang untuk membahas upaya membuka kembali
Selat Hormuz, jalur maritim strategis yang sebelum perang menjadi jalur bagi sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia.
Iran menyebut penundaan pertemuan tersebut terjadi atas permintaan Arab Saudi.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, juga menyampaikan sikap keras Teheran melalui media sosial X dengan menyatakan bahwa Iran tidak akan melakukan perundingan hingga persyaratannya dipenuhi.
Penundaan dialog tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keberlangsungan gangguan di Selat Hormuz.
Harga Minyak BergejolakKetegangan geopolitik di kawasan langsung berdampak terhadap pasar minyak. Harga minyak mentah sempat melonjak lebih dari 4 persen pada perdagangan Senin sebelum kenaikannya menyusut menjadi sekitar 1 persen pada penutupan.
Pelaku pasar memperkirakan penutupan berkepanjangan jalur pipa East-West Arab Saudi dapat memangkas hingga 4 persen dari total pasokan minyak global per hari.
Kondisi tersebut membuat perkembangan di Selat Hormuz semakin penting bagi pasar energi dunia. Setiap gangguan berkepanjangan pada jalur tersebut berpotensi meningkatkan risiko terhadap pasokan minyak sekaligus mendorong harga energi lebih tinggi.
Laporan Kerusakan Kapal di Selat Hormuz Saling BertentanganSituasi di jalur pelayaran juga semakin kompleks setelah muncul laporan berbeda mengenai kerusakan kapal tanker komersial.
Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim kapal tanker berbendera Panama, El Gaia, mengalami kerusakan setelah menerjang ranjau laut ketika melintasi zona yang disebut sebagai wilayah terlarang di selatan Selat Hormuz.
Namun, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) membantah klaim tersebut. CENTCOM menyebut kapal itu sebelumnya telah mengalami kerusakan akibat serangan rudal Iran pada bulan lalu.
Baca Juga: ARab Saudi Diserang, Harga Minyak Dunia Melonjak 2,77 Persen, Brent Nyaris Tembus US$108 per Barel Di sisi lain, Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengonfirmasi El Gaia mengalami kerusakan pada Sabtu. Dua awak kapal dilaporkan hilang dalam insiden tersebut.
Sejak pecahnya perang pada 28 Februari, Selat Hormuz disebut praktis tertutup bagi lalu lintas kapal komersial tanpa izin resmi dari Iran.
IRGC juga menegaskan akan tetap mempertahankan kendali atas jalur pelayaran tersebut. Kondisi ini membuat masa depan Selat Hormuz dan stabilitas pasokan minyak global masih menjadi perhatian utama.