Awas ! Stres Pasca Pemilu, Waspadalah Para Caleg

Redaksi - Rabu, 17 April 2019 03:58 WIB

Warning: getimagesize(https://cdn.digtara.com/uploads/images/201904/coblos-1.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u398301689/domains/digtara.com/public_html/amp/detail.php on line 172

digtara.com | JAKARTA -Terkait pertarungan para calon wakil rakyat dan juga calon presiden dalam Pemilu 2019 akan mencapai puncaknya. Tepat ari ini, Rabu 17 April 2019, seluruh warga Indonesia akan menentukan caleg dan juga capres pilihannya.

Sebelumnya, selama hampir satu tahun publik disuguhkan kampanye menggunakan politik identitas dan mengumbar kebencian satu sama lain. Hal ini pada akhirnya menyebabkan perpecahan di tengah masyarakat. Tidak hanya itu, beberapa juga beranggapan bahwa iklim politik yang panas, juga potensi akan berdampak pada kesehatan mental seperti gangguan kecemasan dan depresi.

Di Indonesia sendiri masih belum ada studi yang menjelaskan mengenai fenomena itu. Namun, dari survei yang dilakukan American Psychological Association (APA) yang dirilis pada tahun 2017 menemukan bahwa tingkat stres masyarakat Amerika meningkat dalam kurun waktu sepuluh tahun terkahir.

Seperti dilansir dari Psychology Today, profesor klinis psikiatri di Universitas Stanford, Thomas Plante, Ph.D., ABPP, mengatakan bahwa mayoritas orang Amerika dalam survei itu menunjuk iklim politik di Amerika menjadi salah satu sumber faktor tekanan yang membuat masyarakat stres.

Laporan tersebut menemukan juga bahwa peningkatan tingkat stres juga mengakibatkan insiden yang lebih tinggi baik dari gejala kesehatan fisik dan mental termasuk sakit kepala, perasaan kewalahan, cemas, dan depresi.

“Semua ini membuat beberapa orang berspekulasi bahwa banyak yang mengalami apa yang sekarang disebut Post Election Stress Disorder (PESD),” ungkap Plante.

Ia melanjutkan, meski penelitian berbasis bukti yang berkualitas masih butuh waktu untuk pembuktiannya, namun dari data awal ini menunjukkan bahwa PESD ini adalah suatu yang nyata.

“Begitu banyak orang yang tampaknya merasa berkecil hati, bingung, dan tertekan oleh iklim politik kita dan masa depan bangsa. Dan gejala stres mereka dapat menyebabkan masalah potensial dalam fungsi pribadi, sosial, dan pekerjaan mereka,” kata Plante.

Meskipun tidak ada jawaban sederhana untuk mengatasi stres, Plante mengatakan bahwa ada prinsip-prinsip bermanfaat yang dapat digunakan untuk mengelola stres dengan lebih baik. Selain manajemen stres kegiatan seperti yoga, meditasi, latihan fisik, juga dapat membantu mengurangi kondisi ini.

“Kita jelas tampak hidup di masa yang penuh gejolak dan tingkat stres yang sangat tinggi. Gangguan Stres Pasca Pemilihan sebenarnya mungkin sesuatu yang harus kita atasi untuk beberapa waktu mendatang. Butuh waktu dan penelitian berkualitas untuk mengungkap ini,” kata dia.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Kabar

Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah Dukung Penuh Langkah PBNU dalam Merespon Pemberitaan Trans7 yang Dinilai Mencoreng Martabat Pesantren

Kabar

Ribut Pasca Mabuk Miras, Sejumlah Pemuda di Kupang Diamankan Polisi

Kabar

Tersangka Pembuang Bayi di Kupang Dilimpahkan ke Kejaksaan

Kabar

Dinkes dan BKD Langkat Bantah Tudingan Pungli: Proses Kenaikan Jabatan Sesuai Regulasi Nasional

Kabar

Ketua DPRD Sumut Sambut KoJAM Dalam Kolaborasi Pemberitaan

Kabar

Mahasiswa di Kupang Ditemukan Tewas Gantung Diri, Sebelum Tewas, Korban Sempat Minta Uang Beli Pulsa