digtara.com | SORONG – Puluhan warga yang mengaku keluarga dan kerabat Simon Harar, petugas sekuriti di LNG–Tangguh yang ditemukan tewas di areal perkebunan pisang di Puncak Bahari Kota Sorong pada Senin 24 Juni 2019 lalu, memblokade jalan utama Kota Sorong, tepatnya di kawasan Sorpus, Kota Sorong, Papua Barat.
Blokade dilakukan dengan menggunakan ranting pohon, batu serta membakar sejumlah ban bekas, Selasa (25/6/2019).
Aksi ini mereka lalukan untuk menjegat kedatangan BRS (35), warga Klademak-2, Klaligi, Kota Sorong, yang merupakan terduga pelaku utama penganiayaan hingga tewasnya Simon Harar. BRS kabarnya akan tiba di Sorong dengan menumpang maskapai penerbangan domestik.
Namun mempertimbangkan faktor keamanan, permintaan warga ditolak pihak kepolisian.
“Mereka memaksa untuk pelaku yang saat ini sedang kita bawa dari Polda Papua menuju Kota Sorong, dihadirkan ke tengah-tengah keluarga. Ada mekanisme, ada prosedurnya. Kami berkeberatan dengan alasan keamanan,” jelas Kapolres Sorong Kota, AKBP Mariochristy Siregar usai menemui pihak keluarga Simon Harar.
Warga pun dihimbau untuk tindak melakukan tindakan anarkis dan menyerahkan seluruh proses hukum kepada pihak kepolisian.
“Untuk prosesnya tetap kita lanjutkan. Untuk 351 ayat 3, kita tindaklanjuti, kita penuhi berkasnya. Satu yang sudah kita dapatkan, untuk beberapa nama sudah kita kantongi dan kita masih lakukan upaya pengejaran pelaku-pelaku lain,” ujar Mariochristy.
Akibat blockade tersebut, arus lalu-lintas dari dan ke lokasi terpaksa dialihkan sementara. Blokade akhirnya dibuka oleh pihak kepolisian setempat setelah melalui proses mediasi bersama pihak keluarga korban.
Pantauan digtara.com, kerumunan massa kerabat keluarga korban, hingga kini masih memenuhi halaman Mapolres Sorong Kota, menanti kedatangan sang terduga pelaku.
[AS]