digtara.com | MEDAN – Kapolsek Patumbak, AKP Ginanjar Fitriadi, dikeroyok komplotan bandar narkoba saat akan melakukan penangkapan di bandar narkoba berinisia A, di kawasan Marindal, Patumbak, Deliserdang, Sumatera Utara pada Kamis 8 Agustus 2019 kemarin.
Akibat pengeroyokan itu, AKP Ginanjar terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka-luka. Sementara bandar narkoba berinisial A yang mengotaki pengeroyokan itu, akhirnya ditembak mati petugas.
Ginanjar mengalami luka-luka, bukan karena tak sanggup melawan. Namun karena jumlah komplotan bandar narkoba jauh lebih banyak, yang diperkirakan mencapai lebih dari 20 orang.
Apalagi, Ginanjar juga merupakan penyuka olahraga bela diri yang terbilang sangat keras dan mengandalkan kekuatan fisik, yakni Tarung Drajat.
Setidaknya itu pengakuan Ginanjar dalam sebuah wawancara kepada media pada pekan lalu. Dimana Ginanjar mengaku menjadikan Tarung Drajat sebagai olahraga pilihannya sejak masih SMA.
“Saya suka berolahraga, karena dengan olahraga, saya merasa tubuh saya tidak kaku dan semangat dalam menjalani hidup. Waktu SMA sampai kuliah saya Tarung Drajat. Namun, saat masuk pendidikan di Polisi, karena waktunya berkurang makanya tidak bisa menggeluti lagi olahraga tersebut,”ujarnya seperti dilansir tribunnews, Sabtu (10/8/2019)
Kapolsek Patumbak, AKP Ginanjar saat memaparkan pengungkapan kasus peredaran narkoba (net)
Diakuinya, suka dengan olahraga tarung Drajat karena visi misinya sangat sesuai dengan dirinya yang sekarang menjadi seorang polisi.
“Ramah Bukan Berarti Takut, Aku Tunduk Bukan Berarti Takluk. Dan itu sangat sesuai dengan polisi yang sekarang mengemukakan humanis dalam pelayanan dan melayani,”terangnya.
Ia mengaku, keluarga besar dirinya memang pendiri tarung Drajat di Kota Bandung. “Kalau di sana, olahraga tarung Drajat sangat banyak dan gampang mencari satuan latihan. Sangat jauh berbeda dengan di sini, Kota Medan. Jadi, saya lebih memilih untuk melatih sendiri, saat ada waktu luang,”kata pria kelahiran Sukabumi itu.
[AS]