Digtara.com | SERGAI – Ada seorang pengemis dengan modus berpura-pura sebagai tuna netra di kawasan Dolok Masihul, Kabupaten Sergai, Sumatera Utara (Sumut) diungkap pihak Polres Serdang Bedagai (Sergai).
Menanggapi hal tersebut, Kasat Narkoba Polres Sergai, AKP Martualesi Sitepu mengatakan, pengungkapan bermula saat dirinya bersama anggota baru selesai meringkus bandar narkoba di daerah Dolok Masihul. Saat itu mereka sedang sarapan di samping Kantor BRI Dolok Masihul.
“Jadi, saat kami sarapan datang dua orang peminta-minta, perempuan yang mengaku ibunya dan laki-laki, anaknya,” katanya.
Lalu pihak kepolisian, merasa curiga melihat si anak yang memakai handuk di bawah pecinya. Mereka kemudian menawarkan kepada dua orang peminta-minta itu untuk sarapan bersama.
“Saya mohon maaf jangan tersinggung ya ibu, apa benar anak ibu ini buta,” tanya Martualesi kepada ibunya.
“Iya pak, namanya Syafie,” jawab ibu tersebut, seraya mengaku ia dan putranya dari yayasan tuna netra di Sungai Sei Buluh.
Lantaran Martualesi mengenal pengurus yayasan tuna netra itu, ia kemudian melakukan video call, untuk memastikan mereka dari yayasan tersebut.
“Apakah benar ada warga tuna netra di sana atas nama Fi’i atau Syafie,” tanya Martualesi kepada pengurus yayasan tuna netra melalui video call.
“Ada warga kita Fi’i, tapi bukan anak itu,” jawab pengurus yayasan sesudah melihat wajah Fi’i saat video call.
Setelah selesai sarapan, Martualesi meminta agar ibu dan anak ini jujur. “Ibu, ini anaknya apa memang benar buta,” tanya Martualesi lagi.
Kemudian Martualesi memerintahkan anggotanya untuk membakar asap dari puntung rokok dan didekatkan ke wajah laki-laki yang mengaku buta itu.
“Laki-laki yang mengaku buta itu seperti kepedihan, dan mata berair-air. Sudah bergerak-gerak matamu, ayok bukalah. Hingga akhirnya terbuka matanya,” ucap Martualesi.
Setelah membuka matanya, laki-laki pengemis itu bukan merasa bersalah. Ia malah seperti tidak senang kepada petugas kepolisian.
“Ini lihat mataku,” tantangnya sambil menunjuk tangan ke arah matanya.
Lalu, Martualesi coba menasehati pengemis yang mengaku ibu dan anak itu, agar tidak lagi mengulangi perbuatan mencari uang dengan cara menipu.
“Jangan ulangi perbuatan seperti ini. Ini tidak bagus,” ujar Martualesi.
“Iya pak, minta ampun kami pak. Tolong jangan di bawa ke kantor polisi,” jawab si ibu pengemis memohon-mohon ampun agar jangan ditangkap.
“Ya sudah, pulanglah jangan diulangi. Enggak bagus perbuatan seperti ini, marah Tuhan,” ujar Martualesi.
Setelah mereka mengakui kesalahannya, kemudian Martualesi memberikan ongkos pulang kepada kedua pengemis.[analisa]