Kisah Seorang Perempuan yang Alami Pelecehan Seksual Sejak SD

- Minggu, 01 September 2019 13:40 WIB

Digtara.com | JAKARTA – Memang banyak sekali tindak pelecehan seksual yang dialami para wanita, namun mereka tidak berani untuk melawan maupun berbuat apa-apa ketika menerpa dirinya.

Seperti kisah seorang wanita cantik, sebut saja Uni dia mengaku pelecehan seksual telah diperoleh sejak dirinya masih kecil. Tepatnya ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Bahkan kekerasan seksual yang dia alami diperoleh dari orang yang berada di sekitar kehidupannya.

Diirnya Mengalami pelecehan sudah dialami sejak SD. Pertama kali sama supir jemputan, dia buka rok terus pegang paha bahkan sampai ke bagian kemaluan. “Tapi karena saya orangnya gak reaktif, mau teriak juga malu jadinya cuman kayak geser duduk saja,” terangnya.

Tapi, kenyataan bukan hanya kali itu saja ia menerima pelecehan seksual dari sang supir jemputan. Wanita cantik ini juga pernah dipegang-pegang pipinya sekira kelas 5 SD. Tapi, kali ini Uni melaporkan aksi tersebut kepada ibunya.

“Sininya saya enggak berani ngadu lagi, takut dia emosi dan saya enggak boleh pergi-pergi lagi. Untuk kasus supir jemputan yang ngelus-ngelus pipi saya ngaduk ke ibu. Besoknya dia dimaki-maki sama ibu dan saya enggak boleh duduk di depan lagi. Ini karena ibu ngamuk banget dan ke sini-sininya saya enggak berani ngadu lagi, takut dia emosi dan saya enggak boleh pergi-pergi lagi,” lanjutnya.

Saat Sekolah Menengah Pertama (SMP) kasus pelecehan seksual pun masih dirasakan oleh Uni. Pelecehan tersebut terjadi saat ia menaiki angkutan umum saat hendak berangkat ke sekolah. Uni mengaku dirinya pernah digerayangi oleh seorang penumpang pria saat duduk di kursi paling belakang.

“Pas SMP dilecehin di angkot ketika pagi-pagi mau berangkat ke sekolah. Saya duduk di angkot paling belakang terus ada cowo megang kaki saya mulai dari betis. Ketika sudah sampai ke dengkul saya langsung bereaksi dan turun dari angkot itu,” sambungnya.

Pelecehan seksual pun berlanjut pada waktu Uni kuliah. Ia mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari seorang pria yang merupakan penumpang Transjakarta. Kala itu penumpang pria ini berusaha mencari celah untuk dapat memegang payudara Uni yang duduk di hadapannya.

“Posisi bus penuh penumpang dan ada seorang pria yang berdiri di hadapan saya. Dia berusaha memegang payudara, saya pun berusaha menghindari menggunakan tangan meski pada akhirnya tersentuh juga. Tapi saya enggak bisa berbuat banyak karena posisi bus di jalan tol gak bisa turun dan sebelah saya pria juga,” ujar Uni.

Pelecehan seksual yang terakhir kali dialami Uni adalah saat dirinya hendak berangkat kerja setelah lulus kuliah. Menurutnya ini adalah pelecehan seksual yang paling parah, karena dengan sangat berani meremas bokongnya saat sedang berada di dalam bus.

karena dengan sangat berani meremas bokongnya saat sedang berada di dalam bus.

“Padahal posisinya kami terhalang oleh satu orang. Meski demikian, saya pun lagi-lagi tidak melawan ataupun berteriak. Yang bisa saya lakukan adalah pergi menjauh ke tempat yang lebih aman,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Uni mengaku memang tidak bisa bereaksi apa-apa ketika mendapat pelecehan seksual selama hidupnya. Ia mengatakan, rasa takut menjadi salah satu penyebab mengapa Uni selalu diam dan memilih untuk pergi menghindar ketika mendapat perlakuan tidak menyenangkan tersebut.

“Saya enggak berani ngelawan. Takut diikutin besok-besoknya dan malah di apa-apain. Jadi daripada lebih parah, mending kabur saja. Saya hanya bisa berzikir dan gak berani liat muka pelakunya,” terangnya.

Uni pun berpesan kepada semua orangtua, khususnya bagi yang memiliki anak perempuan untuk dibekali dengan edukasi tentang pelecehan seksual. Nantinya, pelajaran tersebut dapat berguna bagi sang anak, apabila sewaktu-waktu mengalami pelecehan seksual di tempat umum.

“Soalnya dulu waktu kecil saja semua orang boleh nyium. Jadi saya antara ngerasa dilecehin sama diisengin tanpa maksud atau dia memang enggak sengaja agak nyaru. Emang orangtua harus menjelaskan sih ke anak soal pelecehan seksual. Enggak boleh tabu,” tuntasnya.[oke]


Tag:

Berita Terkait

Kabar

Pria Lansia di Kabupaten TTU Jadi Tersangka Kasus Kekerasan Seksual Pada Lima Anak

Kabar

Tangani Kasus Kekerasan Seksual Secara Profesional, Polres TTU Segera Tetapkan Tersangka

Kabar

Lima Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual, Sopir di Kabupaten TTU Belum Ditahan Polisi

Kabar

Tiga Pemuda Termasuk Piche Kotta Bakal Diperiksa Polisi Terkait Dugaan Kasus Kekerasan Seksual Siswi SMA

Kabar

Pelaku Kekerasan Seksual Bergeser, Guru dan Aparat Polisi Ikut Terseret

Kabar

92 Persen Korban Kekerasan Seksual di NTT adalah Anak