digtara.com | MEDAN – Sejumlah kabupaten di Sumatera Utara disebut rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan, karena memiliki areal hutan dan perkebunan yang luas tetapi jarang dituruni hujan. Seperti Kabupaten Langkat, Mandailing Natal dan Labuhanbatu Selatan.
Demikian dikatakan Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Sumatera Utara, Brigjen Pol Mardiaz Kusin Dwihananto dalam rapat koordinasi (rakor) penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kantor Gubernur Sumut, Medan, Jumat (20/9/2019).
“Saat musim kemarau, tiga lokasi tersebut rawan terjadi Karhutla,”sebutnya.
Dalam rakor tersebut, Gubernur Sumut Edy Rahmayadi pun meminta Polda untuk mencari dan menindak tegas pelaku pembakar hutan dan lahan.
Sumut sendiri saat ini memiliki 1 titik api, berdasarkan informasi BMKG dari pengamatan Satelit Aqua dan Terra dengan dengan tingkat kepercayaan 81-100 persen. Yakni di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Gubernur Edy pun memastikan dirinya akan mencabut izin operasional perusahaan yang terbukti terlibat pembakaran hutan dan lahan.
“Saya tidak mau berburuk sangka, saya tak mau menuduh. Yang saya inginkan, bapak-bapak berpartisipasi untuk mencegah (karhutla) ini karena kebanyakan terjadi di dekat usaha bapak,” paparnya dalam rakor yang juga dihadiri manajemen sejumlah perusahaan perkebunan tersebut.
Sementara itu, Pangdam I/BB Mayjen TNI MS Fadhilah menyampaikan, terjadinya Karhutla disebabkan 95 persen karena ulah manusia.
“Ada yang tingkatnya kecil hingga tingkat korporasi. Motivasinya pun beragam, ada yang karena tuntutan ekonomi, ada juga yang termotivasi melakukan karhutla karena urusan politik,” ujarnya..
[AS]