Cerita Ketekunan Perempuan-Perempuan di Pekan Labuhan Mengelola Sampah Sebagai Sumber Ekonomi Komunitas

- Sabtu, 03 Oktober 2020 08:52 WIB

digtara.com – Selayaknya kota-kota besar di dunia, sampah juga menjadi persoalan utama di Sumatera Utara, khususnya di Medan. Persoalan sampah seolah menjadi bom waktu yang siap meledak kapanpun akibat ketidaksiapan aspek hukum dan kelembagaan pemerintah dalam mengelola sampah. Belum lagi perilaku masyarakat yang belum tertib dan masih membuang sampah sembarangan.

Data Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Utara menunjukkan bahwa produksi sampah di wilayah Sumatera Utara mencapai 3,7 juta ton per tahun, atau sekitar 10.137 ton perhari. Dari jumlah itu, Pemerintah Kota Medan mengklaim bahwa sekira 2 ribu ton perhari berasal dari wilayah mereka.

Sebagian besar sampah di Medan sebenarnya sampah yang bisa diolah kembali, dan tak termasuk kategori sampah berbahaya. Itu karena sekira 50 persen dari total produksi sampah Kota Medan, berasal dari sampah rumah tangga.Namun sayangnya, dari total 2 ribu ton sampah perhari yang diproduksi Kota Medan, 89 persen di antaranya tak dikelola dengan baik.

Sadar akan hal itu, sejumlah kelompok masyarakat mulai ambil peran. Ada yang mulai mengurangi produksi sampah, ada yang mulai memanfaatkan sampah agar bisa kembali digunakan. Ada pula yang menjadikan sampah sebagai sumber ekonomi.

Seperti yang dilakukan kelompok Mawar Berduri, di Jalan Benteng Baru, Lingkungan 24, Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan. Kelompok beranggotakan 15 orang yang terdiri dari para perempuan itu, aktif memulai gerakan produktif menjadikan sampah sebagai sumber ekonomi komunitas.

 

Kampung Ecobricks…

KAMPUNG ECOBRICKS

Koordinator Kelompok Mawar Berduri, Mulyani (61), mengatakan, gerakan mereka pertama sekali didorong oleh PT Pertamina bersama Rumah Zakat pada tahun 2018 lalu. Di awal gerakan tersebut, mereka dilatih untuk membuat ecobricks.

Ecobricks adalah produk hasil olahan cacahan sampah plastik yang dimasukkan ke dalam botol air mineral dan kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bata ringan untuk kebutuhan konstruksi sederhana.

Lewat produksi ecobricks ini mereka mulai rajin mengumpulkan sampah-sampah plastik bekas rumah tangga. Sampah-sampah plastik yang awalnya dibiarkan tercecer, kemudian menjadi buruan.

Bagaimana tidak, setiap ecobricks yang diproduksi ternyata memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Peminatnya pun terbilang cukup banyak.

“Satunya bisa dijual seharga Rp2 ribu. Dan setelah itu, mulai lah kita sadar bahwa ternyata sampah itu punya nilai ekonomi,” sebut Mulyani saat ditemui digtara.com, beberapa waktu lalu.

Rupiah-rupiah yang berhasil mereka kumpulkan dari menjual ecobricks membuat mereka semkain giat mengumpulkan sampah-sampah plastik. Tanpa sadar, lingkungan tempat tinggal mereka bersih dari sampah plastik dan semakin asri.

“Belakangan kita sadar akan pentingnya menjaga lingkungan dari sampah. Khususnya sampah plastik. Jadi kalau selama ini kita menghasilkan sampah plastik dan kita buang begitu saja, sekarang kalau kita kemana-mana menemukan sampah plastik, kita bawa pulang ke rumah. Itu terjadi di semua kami yang menjalani gerakan ini,” tukasnya.

Comunity Development Officer Field Medan Group, PT Pertamina, Nurul Azmi mengatakan, target utama mereka mendorong pendirian kampung warna-warni ecobricks, adalah untuk mendorong masyarakat yang peduli lingkungan bersih dari sampah.

“Ini bagian dari program kemitraan kita membina masyarakat di sekitar lokasi kerja. Karena tempat ini jaraknya hanya beberapa ratus meter dari terminal BBM Medan Group,” sebut Nurul.

“Yang terpenting yang menjadi goals kita sebenarnya, bagaimana masyarakat memiliki kesadaran akan sampah. Jadi mereka tidak lagi membuang sampah sembarangan, termasuk ke sungai. Dan sekarang kampung warna-warni ecobricks, jauh lebih asri dibandingkan waktu pertama kali kita sentuh di tahun 2018 lalu,” tambahnya.

Untuk pemasaran, kata Nurul, mereka juga telah membantu. Saat ini Pertamina ikut mendistribusikan ecobricks hasil produksi kelompok Mawar Berduri. Baik untuk dipergunakan oleh Pertamina sendiri maupun dipasarkan ke tempat lain.

“Kita sendiri saat ini telah memesan sebanyak 20 ribu ecobricks untuk membangun taman yang sudah kita rencanakan. Sementara untuk lebih memudahkan pemasaran pada pihak lain, kita bahkan sudah melakukan uji ketahanan terhadap produk ecobricks. Hasilnya ecobricks lebih kuat dibandingkan bata ringan,” tukasya.

 

Rumah Ecobricks…

RUMAH ECOBRIKS

Ecobricks yang dihasilkan kelompok Mawar Berduri, kini telah digunanakan untuk membangun satu bagian rumah di belakang rumah Mulyani. Sebanyak 1500 ecobricks yang dibeli Pertamina dari kelompok Mawar Berduri, dijadikan percontohan.

Bahkan kini ecobricks produksi Mawar Berduri dikembangkan menjadi tempat duduk dan gapura kampung.

“Iya rumah ini kita bangun dari ecobricks. Termasuk gapura di depan kampung tadi. Cukup kuat kok. Pengerjaannya memang agak sedikit sulit, tapi daya tahannya sejauh ini baik sekali,” sebut Ani Kapal –panggilan akrab Mulyani.

Ke depan, Ani berharap agar Pertamina dapat membantu lebih meluaskan lagi pasar ecobricks produksi mereka. Termasuk mendorong agar Pemerintah Kota Medan, memanfaatkan ecobricks ini untuk membangun taman-taman kota.

“Semakin masif pemanfaatan ecobricks ini, maka kebutuhan akan semakin besar. Dan pemanfaatan sampah plastik bisa terus dilaksanakan dan mendorong perekonomian masyarakat,” harapnya.

 

Bank Sampah…

BANK SAMPAH

Berhasil mengolah sampah menjadi ecobricks, tak membuat Mawar Berduri puas. Perempuan-perempuan tangguh itu kini bersama Pertamina juga membentuk bank sampah. Lewat bank sampah yang digelar setiap hari Sabtu secara bergantian di Pekan Labuhan, masyarakat dapat menukarkan sampah rumah tangga mereka untuk dijadikan tabungan.

“Jadi sampah plastik yang tak bisa dikelola jadi ecobriks, bisa dijual ke bank sampah. Sehingga sampah-sampah rumah tangga kita bisa sepenuhnya dimanfaatkan. Ada dua kelompok yang menjalankan program ini. Satu bank sampah itu sendiri, yang kedua kelompok pengumpul sampahnya,” terang Ani.

Secara total, menurut Nurul Azmi, dalam sepekan pelaksaan bank sampah, bisa terkumpul hingga lebih dari 900 kilogram sampah plastik dengan nilai ekonomis mencapai Rp.1 juta.

“Keuntungan dari bank sampah ini sekitar 40 persen dan seluruhnya diperuntukkan bagi kader bank sampah,” sebut Nurul.

“Bank sampah ini merupakan wadah terakhir untuk masyarakat memanfaatkan sampah-sampah yang tidak bisa dijadikan ecobricks untuk tetap bisa dijadikan uang,” tambah Nurul.

“Tapi sebenarnya consern kita bukan menghasilkan sampah lagi untuk ecobrick, karena kalau semakin banyak ecobrick berarti semakin banyak sampah. Ini kita sedang mencari substitusi lain untuk membuat ecobrick,” tandas Nurul.

 

Meniti Berkah…

MENITI BERKAH

Tuntas mengelola sampah plastik, kini kelompok Mawar Berduri fokus pada penanganan sampah organik rumah tangga. Seperti kulit buah-buahan maupun sisa sayur-sayuran. Sampah jenis ini sejatinya selalu ada di rumah, seiring dengan konsumsi rumah rumah tangga yang terus berjalan.

Untuk mengolah sampah organik ini, kelompok Mawar Berduri bersama Pertamina kemdian mendirikan satu kelompok yang memproduksi ecoenzym. Kelompok ini diberika nama ‘Berkah’.

Ecoenzym merupakan fermentasi dari sampah organik yang nantinya dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Seperti kebutuhan cairan pembersih, hingga pupuk tanaman.

Mulyani mengaku, mereka telah dua kali mendapatkan pelatihan untuk pembuatan Ecoenzym ini. Saat ini mereka terus dalam tahap penyempurnaan, dan berharap bisa segera memproduksi ecoenzym itu dipasarkan secara luas, guna mendorong ekonomi komunitas mereka.

“Kalau sekarang masih dipakai sendiri. Namanya masih belajar. Tapi ke depan harapan kita bisa dibotolkan untuk kemudian di jual lagi. Sehingga selain pemanfaatan sampah yang semakin luas, kita juga mendapatkan keuntungan ekonomi yang masih banyak. Sehingga ekonomi masyarakat disini bisa terdorong,” sebut Mulyani.

Sementara itu Nurul Azmi mengaku, Pertamina punya tantangan lebih strategis untuk pemanfaatan Ecoenzym ini. Selain bisa digunakan untuk pembersih yang bisa menekan biaya pengeluaran rumah tangga, Ecoenzym ini juga bisa digunakan secara produktif sebagai pupuk.

“Kita berencana membuatkan lahan tanaman yang bisa ditanami, cabai, bawang dan produk pertanian lainnya. Nanti menggunakan pupuk ini. Sehingga nilai ekonominya untuk masyarakat lebih besar,” tandasnya.

 

Pemanfaatan Sampah…

KEBERLANGSUNGAN PEMANFAATAN SAMPAH

Pemerhati Lingkungan, Jaya Arjuna menyebutkan, motif ekonomi memang merupakan yang paling strategis digunakan untuk pengelolaan sampah. Karena dengan adanya motif ekonomi, maka masyarakat akan mudah digerakkan.

Namun dalam jangka panjang, harus dibentuk pola kampanye agar masyarakat mengurangi produksi sampah rumah tangga mereka. Begitu juga dengan produsen-produsen produk rumah tangga yang harus pula didorong untuk menggunakan bahan lebih ramah lingkungan.

“Harus beriringan antara hulu dan hilir. Kalau cuma mengandalkan motif ekonomi. Yang ada sampah akan semakin banyak. Semakin berbahaya ketika sampah menjadi komoditas. Jadi semua harus berperan. Pemerintah juga dengan regulasinya,” tandasnya.

Sejumlah investor dari negara-negara maju yang pengelolaan sampahnya sudah cukup baik, kini melirik Indonesia. Mereka sudah berulangkali menyampaikan ketertarikan itu saat bertemu dengan pimpinan daerah ini.

Ketertarikan investor asing itu seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah, bahwa sampah sejatinya memiliki potensi ekonomi yang besar, yang bisa dimanfaatkan untuk menciptakan lapangan kerja, serta mendorong perekonomian.

Perlu niat baik politik dari pemerintah untuk menstrategiskan pengelolaan sampah, agar ke depan pengelolaan sampah bisa seluas-luasnya memberikan manfaat untuk pemerintah dan masyarakat. Bukan justu kembali menjadi penonton dari industri yang digerakkan dan menguntungkan bangsa lain.

 

[AS]

 

https://www.youtube.com/watch?v=o1X66r3ek3s

 

Saksikan video-video terbaru lainnya hanya di Channel Youtube Digtara TV. Jangan lupa, like comment and Subscribe.

 


Tag:

Berita Terkait

Berita

Tabrak Dump Truk, Mahasiswa Undana Kupang Meninggal di Tempat

Berita

Daftar Harga Emas Pegadaian Rabu 20 September 2023, Antam dan UBS

Berita

Kasat Lantas Polres Sikka Dilaporkan ke Propam, Ini Kasusnya

Berita

Mengenaskan! Jadi Korban Tabrak Lari, Mahasiswi di Kupang Meninggal Dunia

Berita

Dua Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Diamankan Polres Sumba Timur

Berita

Kejati NTT Tahan Lima Tersangka Kasus Korupsi Persemaian Modern di Labuan Bajo