Sekretaris RUU Haji MUI Pusat Minta Pelaksanaan Haji Kedepan Lebih Transparan dan Akuntabel

Haji 2026
Ahsan Fauzi - Jumat, 20 Juni 2025 15:02 WIB
Humas BP Haji
Kepala BP Haji Mochamad Irfan Yusuf alias Gus Irfan bersama Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam Soleh saat memberikan keterangan kepada awak media di Kantor MUI Pusat, Kamis (19/6/2025).

digtara.com - Antrean haji yang panjang menjadi perhatian tersendiri bagi Badan Pelaksana Haji (BP Haji) dibawah kepemimpinan Mochamad Irfan Yusuf alias Gus Irfan untuk pelaksanaan haji kedepan lebih baik. Untuk menyikapi hal tersebut, Kepala BP HajiGus Irfan akan menyiapkan langkah audit data antrean. Mulai tahun 2026 pelaksanaan haji akan diurus oleh BP Haji, salah satu yang akan dibenahi adalah antrean berangkat haji. Termasuk membenahi apa yang disebut sebagai 'kuota batu'.

"Kalau memang ada hal-hal yang perlu diperbaiki akan diperbaiki, termasuk beberapa antrean yang kita sebut kuota batu. Ada namanya, ada alamatnya, ada pembayarannya, tapi ketika dipanggil tidak muncul. Itu juga akan mengurangi panjangnya antrean," kata Irfan di Kantor MUI Pusat, Jakarta Pusat, Kamis (19/6/2025).Gus Irfan menjelaskan, audit ini menjadi langkah awal dalam menghadapi panjangnya antrean haji yang mencapai 5,5 juta pendaftar. Namun, untuk mengatasi antrean panjang itu kunci utama tetap bergantung pada kuota yang diberikan Pemerintah Arab Saudi."Antrean bagaimanapun juga pasti tergantung dari pemerintah Saudi, berapa yang diberikan kuotanya," ujarnya.Selain pembenahan antrean, Gus Irfan juga berencana memperketat aspek istita'ah atau kemampuan jemaah, terutama dari sisi kesehatan. Hal ini dilakukan setelah adanya masukan dari Pemerintah Arab Saudi terkait jemaah yang sebenarnya tidak layak secara medis namun tetap diberangkatkan."Memang tahun ini kita dalam tanda petik mendapatkan masukan dari pemerintah Saudi, kenapa banyak jemaah-jemaah yang secara teknis tidak istita'ah tapi tetap berangkat," ucap Irfan.Dalam kesempatan yang sama, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang FatwaAsrorun Niam Soleh mengingatkan bahwa istita'ah bukan hanya menyangkut kesehatan fisik."Tapi terminologi istita'ah bukan hanya sekadar kesehatan, jadi ada rincian mengenai makna istita'ah atau mampu yang menyebabkan jemaah haji itu wajib berangkat," jelas Niam.Sementara itu, Sekretaris Rancangan Undang-undang (RUU) Haji Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) Pusat Hamam Asy'ari berharap manajemen dan tata kelola pelaksanaan haji bisa lebih baik lagi, tentunya dengan transparan dan akuntabel.Hal itu ia sampaikan pada kegiatan Konsinyering II RUU Haji dan Keuangan Haji yang dilaksanakan oleh Komisi Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) DP MUI Pusat di kantor MUI Pusat Jakarta Pusat, Kamis (19/6/2025).Lebih lanjut, Hamam meminta persoalan isthito'ah harus mengedepankan qoidah usuhul 'Dar'ul mafasid muqodamun ala jalbil al masholih yaitu harus mengutamakan menolak bahaya dibanding mengambil kemaslahatan."Menolak bahaya lebih diutamakan daripada mengambil kemaslahatan. Artinya memperhatikan secara maksimal faktor kesehatan jama'ah, menimalisir masalah, umur tua juga menjadi perhatian penting agar bisa mengurangi angka kematian jama'ah kedepannya," ujar Hamam.Masih menurut Hamam, ia juga meminta untuk diberi kemudahkan jalur koordinasi terhadap kementrian haji dan umroh Arab Saudi. Hal itu dikarenakan mayoritas masyarakat umat muslim Indonesia yang semuanya punya cita-cita berangkat haji, agar lebih fokus dan efektif dalam pengelolaan ibadah haji."Untuk itu, MUI berharap status kelembagaan BPH bisa diperjelas agar lebih efektif," pungkasnya. (San).


Tag:

Berita Terkait

Nasional

174 Pejabat Kemenhaj Dilantik, Menteri Irfan Tegaskan Jabatan Diisi Berdasarkan Merit System

Nasional

MUI Tetapkan RSI Sultan Agung Semarang Jadi Pusat Rujukan Kedokteran Tradisional Terintegrasi Syariah

Nasional

Menhaj Minta PIHK Jangan Janjikan Berangkat Sebelum Visa Terbit

Nasional

Menhaj: Umrah Mandiri Harus Dijawab dengan Peningkatan Layanan Bukan Perang Harga

Nasional

Lantik Enam Pejabat, Menhaj Minta Jaga Integritas dan Percepatan Kinerja

Nasional

Menhaj Buka IEE 2026, Tegaskan Transformasi Haji dan Umrah Harus Berpihak kepada Jemaah