digtara.com -Indonesia mulai memasuki masa transisi dari kemarau menuju musim hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi, terutama banjir, sepanjang bulan Oktober.
Kepala
BMKG,
Dwikorita Karnawati, menyebut
musim hujan tahun ini diprediksi datang lebih awal di sebagian besar wilayah Indonesia.
"Dikhawatirkan dan sangat mungkin potensi kejadian bencana itu akan hampir sepanjang bulan," ujarnya, Rabu (1/10/2025).
Musim Hujan Datang Lebih Cepat
Baca Juga: Sejak 30 Maret, Aceh Diguncang 46 Kali Gempa Susulan Menurut
BMKG, sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan sudah memasuki
musim hujan sebelum September 2025. Sementara itu, sekitar 47,6% Zona Musim (ZOM) di Indonesia akan memasuki
musim hujan pada periode September–November 2025, bergerak bertahap ke wilayah selatan dan timur.
Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada:
- November–Desember 2025: Wilayah barat Indonesia (Sumatra dan Kalimantan).
- Januari–Februari 2026: Wilayah selatan dan timur Indonesia (Jawa, Sulawesi, Maluku, Papua).
Secara keseluruhan, musim hujan 2025/2026 diperkirakan lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Pengaruh Iklim Global
Baca Juga: Gempa Bumi Landa Sejumlah Wilayah di NTT BMKG menjelaskan, fenomena iklim global turut memengaruhi kondisi cuaca Tanah Air.
ENSO diprediksi tetap Netral sepanjang 2025, namun sebagian model iklim menunjukkan potensi La Niña lemah menjelang akhir tahun, yang bisa menambah curah hujan.
Indian Ocean Dipole (IOD) saat ini berada pada fase Negatif dan diperkirakan bertahan hingga November 2025, sehingga berpotensi memperkuat intensitas hujan di Indonesia.
Imbauan BMKG
Meski sifat
musim hujan secara umum berada pada kategori Normal,
BMKG menekankan perlunya kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat menghadapi risiko banjir dan longsor.
"Pemerintah daerah diimbau menyiapkan langkah mitigasi, sementara masyarakat diharapkan aktif memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari kanal resmi BMKG," tegas Dwikorita.
Baca Juga: Sejak 30 Maret, Aceh Diguncang 46 Kali Gempa Susulan