digtara.com -Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan bahwa masih terjadinya kecelakaan kerja menunjukkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) belum sepenuhnya menjadi budaya di berbagai tempat kerja.
Menurutnya, selama ini keselamatan kerja masih sering dimaknai sebatas kepatuhan terhadap aturan dan prosedur administratif, bukan sebagai bagian dari pola pikir dan perilaku sehari-hari dalam bekerja.
"Keselamatan kerja tidak cukup dimaknai sebagai kepatuhan terhadap aturan. K3 harus menjadi budaya kerja. Manusia harus dipandang sebagai bagian dari solusi, bukan sebagai sumber masalah," ujar Yassierli saat mengunjungi PT Bukit Asam di Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (9/2/2026).
Sistem yang Lemah Jadi Akar Masalah
Baca Juga: Pemerintah Tetapkan WFA bagi Pekerja atau Buruh Jelang dan Pasca Idulfitri 2026, Tak Dihitung Cuti Gaji Tetap Dibayar Menaker menjelaskan bahwa
kecelakaan kerja umumnya bukan disebabkan oleh satu kesalahan individu semata. Sebaliknya, insiden sering kali terjadi akibat lemahnya sistem kerja, prosedur, serta pengendalian risiko yang belum optimal.
Budaya keselamatan yang belum kuat, ditambah sistem pengamanan yang belum berjalan efektif, membuat lingkungan kerja tetap rentan terhadap potensi kecelakaan.
Ia menegaskan bahwa kesalahan manusia kerap kali menjadi indikator adanya kelemahan sistem yang perlu diperbaiki.
"Kesalahan manusia bukan penyebab utama kecelakaan, tetapi menjadi tanda adanya kelemahan dalam sistem. Karena itu, perbaikan sistem harus dilakukan secara terus-menerus," tegasnya.
Lima Strategi Perkuat Budaya K3
Untuk memperkuat penerapan K3, Menaker mendorong lima strategi utama, yaitu:
Baca Juga: Menaker Perkuat Pencegahan Gratifikasi dan Korupsi di Kemnaker untuk Jaga Integritas Layanan Edukasi dan peningkatan kesadaran keselamatan kerjaKeterlibatan aktif pekerja dalam sistem keselamatanPerbaikan sistem kerja dan pemanfaatan teknologi keselamatanPenegakan aturan secara konsistenEvaluasi dan perbaikan berkelanjutanMelalui pendekatan tersebut, keselamatan kerja diposisikan sebagai hasil dari sistem yang dirancang secara menyeluruh dan dijalankan secara konsisten.
Dorong Budaya Pelaporan Terbuka
Selain itu, Yassierli juga menekankan pentingnya budaya pelaporan yang terbuka dan pembelajaran dari setiap insiden. Ia menilai budaya saling menyalahkan justru menghambat perbaikan sistem.
Dengan pendekatan keselamatan berbasis manusia, organisasi diharapkan mampu membangun lingkungan kerja yang lebih aman, tangguh, dan adaptif terhadap risiko.
Upaya menjadikan K3 sebagai budaya kerja diyakini menjadi kunci utama dalam menekan angka kecelakaan kerja di Indonesia.
Baca Juga: Menaker Yassierli Tegaskan Integritas dan Profesionalisme sebagai Kunci Layanan Publik Berkualitas