digtara.com -PT Pertamina menegaskan stok BBM atau bahan bakar minyak nasional dalam kondisi aman di tengah kekhawatiran masyarakat terkait potensi kelangkaan energi.
Isu kelangkaan BBM sempat memicu aksi panic buying di sejumlah daerah. Namun
Pertamina memastikan cadangan energi nasional berada di atas batas minimum yang telah ditetapkan pemerintah.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan perusahaan telah melakukan penguatan pasokan energi untuk mengantisipasi peningkatan permintaan selama Ramadan hingga Idulfitri 2026.
Menurutnya, cadangan energi nasional saat ini berada pada kisaran 21 hingga 23 hari. Bahkan untuk beberapa jenis produk BBM, cadangan bisa mencapai hingga 35 hari.
Baca Juga: Pertamina Jelaskan Soal Stok BBM 20 Hari: Bukan Hanya Cukup 20 Hari, Tapi Bisa Hadapi Lonjakan Konsumsi "Acuan cadangan pemerintah menjadi ambang batas pengamanan yang harus selalu dipertahankan. Selama distribusi dan suplai berjalan normal, stok terus bergerak karena pasokan terus ditambah," ujar Baron dalam keterangan resmi, Sabtu (7/3/2026).
Ia menegaskan bahwa angka 21–23 hari tidak berarti stok akan habis setelah periode tersebut. Pasokan energi terus diperbarui secara berkelanjutan untuk menjaga stabilitas cadangan.
"Ini merupakan langkah mitigasi risiko sekaligus komitmen Pertamina dalam menjaga ketahanan energi nasional," tambahnya.
Pengawasan Stok BBM Secara Real-Time
Untuk memastikan ketersediaan energi tetap terjaga, Pertamina memanfaatkan sistem pemantauan digital terintegrasi bernama Pertamina Digital Hub.
Platform ini memungkinkan perusahaan memonitor pasokan energi secara menyeluruh, mulai dari sektor hulu hingga hilir.
Baca Juga: Warga Serbu SPBU, Pertamina Pastikan Stok BBM Aman dan Imbau Masyarakat Tidak Panic Buying Melalui sistem tersebut,
Pertamina dapat memantau pergerakan kapal pengangkut minyak mentah dan produk BBM, jadwal kedatangan pasokan, hingga proses pengolahan di enam kilang milik perusahaan.
Di sektor hilir, teknologi ini juga memungkinkan pemantauan distribusi BBM secara rinci, termasuk pergerakan mobil tangki serta stok bahan bakar di setiap SPBU.
Melalui satu dashboard terpadu,
Pertamina dapat mengidentifikasi pergerakan konsumsi BBM dan LPG di berbagai wilayah sehingga langkah antisipasi dapat dilakukan lebih cepat.
Menurut Baron, sistem digital tersebut sangat penting untuk menghadapi lonjakan permintaan energi, terutama saat periode mudik Lebaran, kondisi cuaca ekstrem, maupun dinamika global yang dapat memengaruhi rantai pasok energi.
Dengan penguatan pasokan dan sistem pengawasan digital tersebut, Pertamina menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas distribusi energi nasional agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama Ramadan dan Idulfitri.
Baca Juga: Pertamina Jelaskan Soal Stok BBM 20 Hari: Bukan Hanya Cukup 20 Hari, Tapi Bisa Hadapi Lonjakan Konsumsi