digtara.com -Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr Simplexius Asa, SH MH mengikuti kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) serta rapat persiapan kegiatan BNPT RI triwulan ketiga yang berlangsung di Jakarta, 6-8 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala
BNPT RI Komjen Pol (P) Eddy Hartono, Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Mayjen TNI Sudaryanto, Deputi IV Bidang Kerja Sama Internasional Dionisius Elvan Swasono, sejumlah pejabat
BNPT, serta para ketua FKPT dari seluruh Indonesia.
Dalam kegiatan monev tersebut, ketua FKPT NTT menyampaikan progres program pencegahan radikalisme dan terorisme yang dilakukan FKPT NTT dan berbagai pandangan serta masukan.
Menurutnya, upaya pencegahan terorisme tidak hanya berkaitan dengan persoalan ideologi, tetapi juga aspek psikologi. Karena itu, keluarga dinilai memiliki peran penting sebagai benteng pertama dalam melindungi anak dari pengaruh radikalisme dan terorisme.
Kepala BNPT RI mengatakan FKPT merupakan harapan BNPT di wilayah. Kehadiran FKPT dinilai menjadi perpanjangan tangan BNPT sekaligus menjembatani pelaksanaan program strategis nasional dalam upaya pencegahan terorisme sebagaimana diamanatkan undang-undang.
Dalam kegiatan tersebut, BNPT juga memaparkan sejumlah data yang dihimpun terkait perkembangan radikalisme dan terorisme di Indonesia, termasuk data dari Densus 88.
Baca Juga: Pria di Ngada Ditemukan Dalam Bengkel dalam Kondisi Membusuk
"Sepanjang 2026,
BNPT mencatat telah menggagalkan 29 rencana aksi serangan teror," kata Edy
"Saat ini, salah satu fokus BNPT melalui FKPT di berbagai wilayah adalah memproteksi anak usia sekolah dari paparan radikalisme dan terorisme," tambahnya.
Berdasarkan pendalaman data, terdapat kurang lebih 743 anak yang berada dalam jaringan
terorisme. Sebagian dari mereka disebut tidak secara sadar terlibat dan bukan karena kesengajaan, melainkan terbawa pengaruh yang antara lain berasal dari game online dan media sosial.
"Fitur pada game tertentu yang membuka ruang komunikasi antara anak dengan orang asing juga dinilai menjadi ancaman serius terhadap keamanan anak," ujarnya.
Sepanjang 2025-2026, BNPT mencatat kurang lebih 21.000 konten kekerasan di sejumlah situs maupun platform game tertentu telah diturunkan atau take down.
"Kondisi tersebut menjadi perhatian serius dalam upaya pencegahan radikalisme dan terorisme, khususnya terhadap kelompok anak dan generasi muda yang semakin aktif menggunakan media sosial serta platform digital," tandasnya.