digtara.com – Selama ini, masyarakat mengenal kecap yang dibuat dari kacang kedelai. Belum banyak masyarakat yang tahu dan merasakan enaknya kecap berbahan dasar nira.
Aipda Daniel Nalle (Anggota Polsubsektor KP3 Laut Tenau Polres Kupang Kota) dan istrinya, Gladys Angela melihat peluang tersebut. Memanfaatkan produksi nira (lontar) di Kupang dan Kabupaten Rote Ndao cukup melimpah, Aipda Daniel dan istri pun mengembangkan industri tersebut.
Keduanya memberdayakan petani nira di Kupang dan Kabupaten Rote Ndao dan menciptakan kecap dari nira (lontar) yang pada masyarakat lokal dikenal dengan gula Rote.
Kecap pun dibuat tanpa bahan pengawet MSG dan juga tanpa kacang kedelai. Namun citarasanua tidak kalah dengan kecap yang menggunakan kacang kedelai.
Dari usaha rumahan ini, warga Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, NTT ini berhasil meraup keuntungan hingga jutaan rupiah. Produk mereka diberi label “Kecap Malada”.
Resep Ibu Mertua
Gladys, istri Aipda Daniel yang berasal dari Surabaya mengaku mengembangkan usaha ini berkat resep ibu mertua Jublina Hendrik.
Di rumahnya, Kelurahan Pasir Panjang, Kota Kupang, Gladys mengembangkan olahan resep turun temurun tersebut.
“Didikan orang dulu kalau bikin apa-apa pasti produksi sendiri terus pakai resep atau bumbu-bumbunya unggulan saat dicoba ternyata enak, maka saya bersama suami inisiatif untuk membuatnya”, ungkap ibu satu anak ini.
Dari situ, ia bersama dua saudaranya mulai mencoba pembuatan kecap pada tahun 2019.
“Kami amati cara pembuatan kecap dari mama (Jublina Hendrik) dari cara mama mencampur rempah-rempah dan ternyata hasilnya sama dengan kecap yang menggunakan kacang kedelai,” tandasnya.
Malah, menurut mereka, kecap yang menggunakan bahan dasar gula lontar sangat bagus dan juga bisa memberdayakan petani lontar di Kabupaten Rote Ndao karena hasil produksi mereka bisa laku terjual.
“Kita sudah memulai usaha ini dua setengah tahun yang lalu, jadi sebelum Covid-19 sudah usaha sampai saat ini tetap eksis”, ujarnya.
Gladys bercerita sedikit tentang rahasia resep kecap Malada. Selain nira lontar yang dibeli dari keluarga di Rote Ndao, ada campuran rempah-rempah seperti serai dan daun jeruk yang dibeli dari pasar.
“Bahan-bahan ini kemudian dihaluskan dengan blender setelah dimasukkan ke dalam air mendidih. Proses masaknya enam jam dengan api ukuran sedang”, ujarnya.
Dalam seminggu, ia dan suami serta kerabatnya bisa memproduksi 3 kali. Sekali produksi sekira 20 kemasan dengan berbagai ukuran.
“Kita produksinya di Oebelo jika ada permintaan yang tinggi, ” terang Gladys.
Sehat tanpa Bahan Kimia
Diakuinya, keunggulan dari kecap ini tanpa MSG, pewarna dan lainnya. Kecap ini asli gula airnya dari Rote Ndao. Selain itu didominasi oleh rempah-rempah.
“100 persen tanpa ada campuran, cocok untuk kesehatan bagi masyarakat, ” kata dia.
Dipasarkan Secara Online dan Keluar Daerah
Kecap Malada ini sudah dipasarkan pada platform seperti Shopee dan diluar NTT.
“Di Kota Kupang produk ini sudah masuk di La Moringa dan Dekranasda, selain itu di Surabaya, ” ujarnya.
Di Surabaya, Jawa Timur, pengiriman pertama ada 150 bungkus dengan ukuran 250 mili liter dan 500 mili liter.
Diakuinya, untuk harga jual kecap ini masih standar di NTT sedangkan di luar NTT bisa dijual mahal. Untuk itu pendapatannya selama satu bulan bisa mencapai Rp 15-20 juta rupiah.
“Contohnya 250 mili liter dijual Rp 9000-10.000 tetapi di Jawa harga bisa mencapai Rp 18.000”, sebutnya.
Menurutnya, harga mahal ini karena orang-orang di sana belum mengetahui kecap tanpa kedelai sehingga daya belinya tinggi walaupun dengan harga mahal.
“Makanya produk ini di jual ke luar NTT karena banyak yang suka meski harganya mahal, ” ucapnya.
Saat ini mereka mengemas dalam bentuk botol dan untuk omset penjualan mereka bisa meraup keuntungan belasan juta per bulan.
Diakuinya kalau masyarakat NTT masih belum kreatif mengolah sumber daya yang ada adalah banyak peluang usaha yang bisa diambil dan dicoba.
Kecap yang diproduksi di bawah naungan lembaga CV Letodae Paradiso ini sudah memiliki label kesehatan dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan Kupang serta sudah mengantongi sertifikat HAKI.
Saat ini kecap yang diproduksi di Jalan Atambua RT 02/RW 01, Kelurahan Pasir Panjang, Kota Kupang ini sedang diurus untuk mendapatkan sertifikasi SNI.
“Ini merupakan kerja sampingan yang dilakukan di rumah dengan harapan gula nira produksi para petani di Kabupaten Rote Ndao memiliki pasaran yang pasti dan kami mencoba memberdayakan masyarakat untuk memakai dan mengolah produk sendiri,” tandas Daniel Nalle.