digtara.com – Beredar sebuah video di media jejaring WhatsApp, sekelompok orang berorasi di sebuah Rumah Tahfidz Quran. Rumah Tahfidz Quran di Sibolangit diintimidasi dan diancam bakar.
Terlihat seorang orator menyuarakan aspirasi mereka, di depan peserta aksi yang membentangkan spanduk.
Salah satu spanduk yang dibentangkan tertulis kata-kata penolakan yang mengatasnamakan warga setempat.
Baca: Bakar Rumah Kades di Sibolangit karena Sakit Hati, Pria Ini Diamankan di Karo
“Kami Menolak…!!! Kegiatan yang Menimbulkan Keresahan di Masyarakat Sibolangit.”
Dalam aksinya itu, sekelompok warga tersebut mendesak agar Rumah Tahfidz Quran Siti Hajar menghentikan seluruh kegiatannya.
Mereka mempermasalahkan izin operasional pesantren tersebut. Massa juga melakukan intimidasi dan mengancam akan membakar Rumah Tahfidz Quran tersebut.
Baca: Warga Sibolangit Geger! Ada Mayat Tanpa Kepala Nyangkut di Sungai
Pemilik Rumah Tahfiz Quran Siti Hajar di Sibolangit Kabupaten Deliserdang, Sumut bahkan mengungkapkan ketakutan yang dialami para santri.
Kini, santri Rumah Tahfidz hanya tersisa 10 orang dari awalnya 30 orang.
Pemilik Rumah Tahfidz juga menduga bahwa sekelompok orang yang melakukan aksi intoleran tersebut adalah massa yang sengaja dibayar oleh orang tertentu.
Sekadar informasi, Rumah Tahfiz Quran Siti Hajar di Sibolangit dibangun di tanah keluarga seluas 4 ha.
Sebelum pesantren dibangun, kata pemilik, ada orang keturunan Tionghoa yang diduga pemilik Hotel The Hill ingin membeli tanah tersebut.
Namun saat itu keluarga tidak menjualnya karena ingin membangun Rumah Tahfiz.
Baca: Di Acara Pembukaan Jambore Daerah Sumut, Gubsu: Bumi Perkemahan Sibolangit Harus Kembali ke Pangkuan Gerakan Pramuka
Pemilik juga menyebutkan bahwa tanah tempat Rumah Tahfidz berdiri memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM) dan juga membayar IMB.
“Di lokasi pendemo ini adalah lokasi yang dibangun pesantren Tahfiz Quran Siti Hajar yang dibuat untuk anak anak penghafal Al Quran.
Apakah mungkin kegiatan anak anak menimbulkan keresahan? Lokasi bukan di pinggir jalan dan hampir tak ada orang lewat.
Jika dibilang meresahkan itu bohong besar, jelas aksi penolakan itu beraroma politik.
Ada dugaan pendemo bayaran dari pengusaha. Sungguh ini menyakiti hati umat Islam, sudah tak ada lagi toleransi.
Kasihan siswa Tahfidz nya sudah gemetar disuruh bubar dan meninggalkan sekolah. Padahal sekolahnya gratis,” kata keluarga pemilik pesantren ini.
Ketua FUI Sumut, Indra Suheri, turut menyayangkan insiden ini.
Dikatakannya, kuat dugaan yang melakukan unjuk rasa itu bukan dari warga setempat, melainkan dari kelompok atau pegawai tempat bisnis yang ada di dekat Rumah Tahfidz tersebut.
“Saya menduga demo itu orang yang bekerja di lokasi bisnis tempat wisata itu. Diduga ada desakan kepentingan di belakang mereka,” ucapnya.
Indra juga mengucapkan bahwa dari keterangan pemilik Rumah Tahfidz, tak ada warga setempat yang mendukung aksi ini.
“Keterangan pemilik, (demo) tidak didukung warga setempat. Patut diduga kuat segelintir orang tertentu karyawan hotel,” katanya.
Indra menyayangkan adanya unjuk rasa tersebut, karena tempat itu sudah lama berdiri.
Bahkan itu merupakan tempat penghafal quran. Sudah pasti, mereka seorang anak yang tidak menggangu masyarakat setempat.
Ayo baca konten menarik lainnya dan follow kami di Google News
Rumah Tahfidz Quran di Sibolangit Diintimidasi dan Diancam Bakar, Pendemo Diduga Orang Bayaran Pengusaha