Las Tak Sekadar Besi, Tapi Juga Harapan

Redaksi - Jumat, 13 Juni 2025 13:40 WIB
ist
Ardin Situmorang.

digtara.com - Di bawah terik matahari kota Medan, Jalan Abdullah Lubis, tepat di seberang Masjid Al-Jihad, di antara deru kendaraan dan debu jalanan, seorang lelaki tua, Ardin Situmorang (71), berdiri tenang di depan truk tuanya.

Topi lusuh bertengger di kepalanya, kemeja garis-garis disisipi bolpoin di saku dada ia tampak sederhana, namun penuh wibawa.

Dialah Pak Las, begitu warga sekitar biasa memanggilnya.

Usianya sudah tak lagi muda, tapi semangatnya tak pernah surut.

Selama 25 tahun terakhir, ia sudah menjalani profesi sebagai tukang las.

"Sudah setua ini, tapi tangan masih kuat kalau untuk kerja," ujarnya sambil tersenyum kecil, menunjukkan rasa bangga yang tulus.

Setiap hari, ia membawa peralatan lasnya ke pinggir jalan.

Di bawah payung ungu besar yang mulai memudar warnanya, ia menunggu siapa saja yang membutuhkan jasanya.

Tabung-tabung gas, kabel, alat las, dan gerobak tua menjadi teman setianya.

Semua disiapkan sendiri, dengan penuh ketekunan.

Namun, penghasilannya jauh dari kata pasti.

"Kadang kalau lagi ramai, bisa dapat seratus ribu. Tapi sering juga seharian duduk, nggak ada yang datang," katanya pelan.

Pendapatan yang tak menentu itu membuat hidup Pak Las penuh ketidakpastian, tapi ia tak pernah mengeluh.

Ia tetap datang setiap hari, menjemput rezeki dengan sabar dan ikhlas.

Bahkan, tak jarang ia harus berpindah tempat karena diusir oleh Satpol PP yang menertibkan pedagang dan pekerja di pinggir jalan.

Meski begitu, ia tak pernah mengeluh. Ia tetap dating setiap hari, menjemput rezeki dengan sabar dan ikhlas.

Di rumah, Pak Las adalah ayah dari lima orang anak. Empat di antaranya sudah menikah dan membangun keluarga sendiri.

Meski hidupnya sederhana, ia bangga bisa membesarkan anak-anaknya hingga dewasa.

"Yang penting mereka hidup baik dan jujur. Saya nggak minta banyak," katanya.

Pak Las bukan sekadar tukang las. Ia adalah simbol keteguhan hati dan kerja keras.

Di tengah kerasnya kehidupan kota, ia menunjukkan bahwa martabat tidak ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh kejujuran dan semangat untuk terus berusaha.

"Selama masih bisa berdiri dan megang alat, saya kerja," tuturnya dengan nada mantap.

Di bawah payung ungu itu, Pak Las tidak hanya menyambung logam-logam yang putus, tapi juga menyatukan kembali harapan yang nyaris padam.

Satu percikan api dari alat lasnya adalah nyala kehidupan yang tak pernah padam.

Pak las berharap jika ia memiliki rezeki lebih dan cukup untuk modal, ia berharap bisa membangun tempat usaha yang lebih besar dari sebelumnya.

Penulis:Darni Angkat, mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Editor
: Arie

Tag:

Berita Terkait

Nusantara

PSMS Medan Targetkan Kemenangan di Markas Garudayaksa FC, Siap Curi Poin di Stadion Pakansari

Nusantara

Pemko Medan Dorong Pelestarian Budaya Melayu agar Lebih Dekat dengan Masyarakat Lintas Suku

Nusantara

PSMS Medan Gagal Menang Meski Unggul Pemain, Ditahan Persikad 2-2 di Stadion Pakansari

Nusantara

KRI Bima Suci Sandar di Belawan, Rico Waas Promosikan Potensi Medan ke Dunia

Nusantara

Hari Ginjal Sedunia 2026, Pemko Medan Perkuat Layanan RSUD Dr Pirngadi

Nusantara

Vonis Tipikor Medan: Eks Kadis PUPR Sumut Topan Ginting Dihukum 5,5 Tahun Penjara