digtara.com -DMB (51), warga Dusun Kopan, Desa Sadi, Kexamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT berusaha memgakhiri hidupnya.
DMB melukai lehernya dengan parang dan berjalan mondar-mandir di halaman rumah dan depan rumah tetangga pada Kamis (30/10/2025) petang.
Tidak ada warga yang berani membantu dan menolong DMB karena ia masih memegang parang di tangannya.
Anggota Polsek Tasifeto Timur, Polres Belu langsung turun tangan menyelamatkan DMB yang melakukan percobaan bunuh diri.
Baca Juga: Berbuat Onar, ODGJ di Kabupaten TTU Diamankan Polisi Personel Kepolisian dibantu anggota Babinsa TNI dan masyarakat berhasil menyelamatkan nyawa DMB.
Kapolres Belu, AKBP I Gede Eka Putra Astawa melalui Kapolsek Tasifeto Timur, Ipda Yusran menuturkan, sebelum diselamatkan, korban pertama kali terlihat oleh warga berdiri mondar- mandir di pinggir jalan depan rumahnya dengan kondisi leher sudah terluka dan berlumuran darah.
Masyarakat yang melihat kejadian tersebut tidak berani mendekatinya sampai korban terkapar dengan sendirinya di depan rumah.
"Masyarakat geger melihat korban berdiri mondar-mandir depan rumahnya dalam kondisi leher terluka dan berlumuran darah. Masyarakat yang ada disekitar situ takut mendekat sampai korban terkapar didepan rumah," tutur Kapolsek pada Jumat (31/10/2025).
Kapolsek bersama sejumlah anggota langsung ke lokasi kejadian.
Saat polisi tiba, korban ditemukan dalam kondisi terkapar dan lemas karena luka sayatan di lehernya.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 6,3 Guncang Pulau Timor-NTT Polisi langsung mengamankan lokasi kejadian dan juga barang bukti.
Karena tidak ada mobil, korban dievakuasi menggunakan sepeda motor menuju RSUD Atambua, Kabupaten agar mendapatkan pertolongan medis.
Korban saat ini masih menjalani perawatan insentif di RSUD Mgr Gabriel Manek, SVD Atambua akibat luka di lehernya.
"Beruntung korban segera kita evakuasi karena kalau lama dibiarkan korban bisa meninggal dunia," tandas Kapolsek.
Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan pihak RSUD Atambua, korban mengalami luka di leher dengan panjang 6 centimeter dan lebar 3 centimeter sehingga harus mendapatkan perawatan intensif.
Kapolsek mengaku belum mengetahui penyebab pasti korban melakukan percobaan bunuh diri dan tidak ada saksi yang menyaksikan secara langsung saat percobaan bunuh diri itu terjadi.
Baca Juga: Puluhan Ekor Kura-kura Dilepasliarkan Kembali di Perairan Rote Ndao-NTT
Namun korban sendiri mengakui bahwa ia sendiri yang menggorok lehernya menggunakan sebilah parang.
"Barang bukti parang sudah kita amankan," tambah Kapolsek.
Kapolsek Tasifeto Timur menjelaskan, dari keterangan istri korban, Yuliana Abu Leto (47), sebelum kejadian tersebut, korban terlihat gelisah dan menyuruh istri bersama anaknya pergi dari rumah.
Rabu (29/10/2025) malam sekitar pukul 21.00 wita, korban tiba-tiba gelisah tanpa sebab dan tiba-tiba menyuruh istri dan anaknya untuk pergi sembari berkata "ada orang yang mau datang".
Baca Juga: Berbuat Onar, ODGJ di Kabupaten TTU Diamankan Polisi Karena merasa takut, istri korban bersama anaknya kemudian pergi dan menginap di rumah saudarinya yang letaknya tidak jauh dari rumah korban.
Istri korban juga mengaku kalau korban ini juga pernah diperiksa ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan dari dokter bahwa korban mengalami gangguan saraf di kepala.
"Masyarakat setempat juga mengakui kalau korban sehari-hari beraktivitas seperti biasa namun apabila sakitnya kambuh, korban sering membawa parang sambil marah-marah tanpa sebab," ujar Kapolsek.
Masyarakat sekitar menjelaskan bahwa sehari-hari korban beraktivitas normal sebagai
petani, namun ketika penyakit saraf yang dideritanya kambuh, korban sering membawa parang dan terlihat marah-marah, sehingga membuat warga sekitar merasa takut.
Polisi masih menunggu korban pulih untuk meminta keterangan lebih lanjut.
"Sehingga kita bisa mengetahui secara pasti apa yang menjadi sebab korban melakukan tindakan nekat tersebut," tandas Kapolsek.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 6,3 Guncang Pulau Timor-NTT
Kapolsek, Ipda Yusran mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga kesehatan mental, menghindari tindakan yang membahayakan diri sendiri, serta segera mencari bantuan apabila menghadapi tekanan atau masalah berat.
"Peristiwa tragis ini menjadi peringatan penting untuk selalu memperhatikan kesehatan mental, baik pada diri sendiri maupun orang lain di sekitar kita. Jika masyarakat melihat atau mengenal seseorang yang mengalami tekanan mental atau depresi, segera cari bantuan profesional," imbau Kapolsek.
Polisi juga siap membantu kapan pun masyarakat membutuhkan dalam kondisi darurat maupun memberikan langkah preventif sehingga masyarakat tidak sampai berbuat sesuatu yang dapat mengancam atau sampai merenggut nyawanya sendiri.