digtara.com -Sejumlah rumah warga di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami rusak berat atau hancur akibat cuaca ekstrem berupa hujan dan angin kencang yang melanda selama beberapa hari terakhir.
Peristiwa ini terjadi tepatnya di Kota Kupang, Kabupaten Lembata hingga Kabupaten Sikka.
Penanganan sementara telah dilakukan oleh warga setempat, pemerintah dan pihak keamanan terkait dampak bencana tersebut.
Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan potensi hujan hingga angin kencang hingga 19 Januari 2026 mendatang.
Baca Juga: Cuaca Buruk, Pencarian Dua Korban Rekan Mantan Bupati TTU Dihentikan Sementara Dampak hujan dan angin kencang Jumat malam (16/1/2025) merusak 14 rumah warga di Kelurahan Manutapen, Kota Kupang, pada RT 13, RT 14 dan RT 15 di RW 04.
Ketua RT 14, Filmon Kay, menyampaikan hujan deras disertai angin kencang terjadi tiba-tiba di wilayah tersebut jelang tengah malam.
Beberapa atap rumah warga diterbangkan angin dan rumah lainnya sampai ambruk atau rusak parah.
"Angin datang sangat kuat dan cepat. Banyak atap rumah warga terangkat, bahkan ada yang roboh sebagian," ujarnya, Sabtu (17/1/2026).
Sementara di Kabupaten Sikka, hujan dan angin kencang menumbangkan sebuah pohon yang kemudian menimpa rumah warga hingga hancur berantakan.
Dampak cuaca buruk ini terjadi di Desa Ritagete, Kecamatan Nita, Sikka, pada Kamis (15/1/2025), sekitar pukul 09.00 WITA.
Baca Juga: Berenang di Laut saat Cuaca Buruk, Pelajar SMA di Kupang Tewas Diterjang Gelombang Korban dalam bencana ini adalah Paulus Tibo (80) yang selamat bersama lima anggota keluarganya sehingga tak terdapat korban jiwa dalam insiden tersebut.
Kapolsek Nita, Iptu Yermi Y. B. Soludale menyatakan kerugian materil yang dialami korban mencapai Rp 25 juta karena kerusakan struktur rumah berukuran 5 x 7 meter ini.
Plt. Camat Nita, Fransiskus Herpianus menyampaikan bahwa pemerintah kecamatan akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan lanjutan terhadap dampak musibah tersebut.
Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi NTT mencatat sejumlah kejadian bencana hidrometeorologi yang terjadi di Kabupaten Lembata pada Senin (12/1/2026) pagi.
Dua rumah warga di Desa Aulesa rusak dan pohon tumbang juga menimpa satu rumah warga di Kelurahan Lewoleba.
Sebanyak tiga kepala keluarga atau sembilan jiwa terdampak dan mengalami kerugian materiil dalam kejadian ini.
Baca Juga: KM Sabuk Nusantara 108 Berlayar kembali Setelah Lima Hari Berlabuh karena Cuaca Buruk
Cuaca ekstrem ini juga menyebabkan robohnya talud penahan Gedung SDK Lamanuna di Desa Dulir.
"BPBD Kabupaten Lembata telah menurunkan tim kaji cepat untuk melakukan asesmen dan penanganan di lokasi kejadian," kata Petrus Y. A. Kewuren selaku Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Lembata dalam rilisnya saat itu.
BMKG melalui Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, Sti Nenotek, menjelaskan peningkatan potensi cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh menguatnya Monsun Asia.
Dalam rilisnya disebut hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang meliputi Nagekeo, Ende, Flores Timur, Alor, Belu, Kota Kupang, dan Kabupaten Kupang pada 17 Januari 2026.
Untuk 18 Januari 2026, kata dia, potensi cuaca ekstrem meluas ke Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Flores Timur, Belu, Timor Tengah Selatan (TTS), Kota Kupang, Kabupaten Kupang, dan Rote Ndao.
Baca Juga: Cuaca Buruk, Pencarian Dua Korban Rekan Mantan Bupati TTU Dihentikan Sementara
Kondisi yang sama diperkirakan berlangsung pada 19 Januari 2026 di Alor, Belu, TTS, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, dan Rote Ndao.