digtara.com -Bencana angin puting beliung menyebabkan gedung Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Yegar Sahaduta Belo, Klasis Kota Kupang Barat, rusak berat pada Sabtu (24/1/2026) dinihari.
Dampak dari peristiwa tersebut, atap dan plafon gedung
gereja terbongkar sehingga kebaktian Minggu pada Minggu (25/1/2026) direncanakan berlangsung dibawah tenda darurat.
Bangunan gereja yang berlokasi di RT 02/RW 01, Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa, itu mengalami kerusakan berat setelah diterjang angin kencang yang berlangsung sangat singkat namun berdampak besar.
Kondisi atap yang terbuka membuat gedung tidak memungkinkan digunakan untuk beribadah, terlebih di tengah intensitas hujan yang masih tinggi.
Baca Juga: Satu Gereja dan Belasan Rumah Warga di Bello-Kupang Rusak Berat Disapu Angin Kencang Ketua Majelis Jemaat GMIT Yegar Sahaduta Belo, Pdt. Selvy Asfes Zina, S.Th., mengatakan jemaat baru saja menikmati hasil renovasi ruang utama dalam empat bulan terakhir.
Renovasi dilakukan secara bertahap bersama jemaat selama hampir satu tahun terakhir.
Pdt Selvy mengakui kalau plafon dan atap ini baru selesai diperbaiki dan dinikmati sekitar empat bulan.
"Tuhan kembali menguji kami lewat peristiwa yang datang begitu tiba-tiba," ujar Pdt. Selvy di lokasi kejadian pada Sabtu (24/1/2026).
Ia menceritakan, sebelum kejadian angin puting beliung, dirinya bersama jemaat masih melakukan aktivitas di gereja hingga sekitar pukul 00.00 WITA.
Sekitar setengah jam setelah kembali ke rumah, listrik padam dan angin kencang langsung menghantam bangunan gereja.
Baca Juga: Janin Ditemukan Warga Dalam Sungai "Kejadiannya sangat singkat, tidak sampai satu menit. Namun angin begitu kuat hingga membongkar atap gedung
gereja," ujarnya.
Saat ini, gedung gereja masih dalam tahap renovasi. Ruang utama telah selesai diperbaiki, sementara bagian belakang gedung atau konsistori belum tersentuh karena keterbatasan anggaran jemaat. GMIT Yegar Sahaduta Belo sendiri memiliki 83 kepala keluarga dengan jumlah jemaat mencapai 323 jiwa.
Di tengah kondisi tersebut, pihak gereja memastikan ibadah Minggu tetap berlangsung dengan menyiapkan tenda darurat di halaman gereja agar jemaat tetap dapat beribadah.
"Untuk kebaktian Minggu ini, kami akan mendirikan tenda agar ibadah tetap berjalan. Bagi kami, ini ujian iman dan kesabaran yang harus dimaknai bersama," ujarnya.
Pdt Selvy berharap adanya dukungan dari berbagai pihak, khususnya dalam bentuk bantuan material seperti seng dan kayu, agar perbaikan atap gereja dapat segera dilakukan.
Baca Juga: Cemburu, Pria di Kupang Aniaya Istrinya
"Ditengah musim hujan seperti sekarang, kami sangat berharap ada uluran tangan. Jika tidak segera diperbaiki, tentu aktivitas ibadah jemaat akan sangat terganggu," tandasnya.
Ia menjelaskan, tingkat kerusakan bangunan
gereja diperkirakan mencapai 80 persen.
Sementara itu, menurutnya plafon gereja yang baru selesai dikerjakan sekitar empat bulan lalu turut rusak akibat terjangan angin kencang semalam.
Pdt. Selvy menyayangkan kejadian itu dan berharap adanya perhatian dari pemerintah untuk membantu perbaikan gereja, khususnya pada bagian atap, agar jemaat dapat kembali melaksanakan ibadah dengan aman dan nyaman.
Baca Juga: Satu Gereja dan Belasan Rumah Warga di Bello-Kupang Rusak Berat Disapu Angin Kencang Meski demikian, ia menegaskan bahwa jemaat tetap akan melaksanakan ibadah Minggu seperti biasa apabila perbaikan belum dapat dilakukan dalam waktu dekat.
"Jemaat memang sedih melihat kondisi gereja, tetapi kami percaya Tuhan memiliki rencana terbaik di balik musibah ini," tandasnya.