digtara.com -Sabtu (24/1/2026) tengah malam, suasana sunyi terasa di RT 02/RW 01, Kelurahan Belo, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.
Namun keheningan malam bagi warga yang rata-rata sudah pulas dalam tidur terusik dengan
angin puting beliung datang secara tiba-tiba.
Angin kencang menyeret rumah-rumah warga, dan hampir merenggut nyawa seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun, Stela Amsele.
Stela masih diliputi trauma. Ia adalah saksi hidup bagaimana dalam hitungan detik, angin kencang menghempaskan Stela bersama puing-puing rumah sejauh kurang lebih 7 meter ke dalam semak-semak.
Baca Juga: Gereja Yegar Sahaduta Belo Rusak Parah Diterjang Angin, Ibadah Minggu Bakal Digelar Dibawah Tenda Malam itu juga menjadi ujian hidup dan mati bagi Stela, dua adiknya, Edwin Amsele (7) dan Irwan Amsele (2), serta sang ibu, Litwina Pakae (40).
Tanpa kepala keluarga di rumah, Litwina bertarung sendiri melawan amukan alam demi menyelamatkan ketiga anaknya.
Suaminya telah dua tahun merantau ke Kalimantan, meninggalkan Litwina membesarkan anak-anak seorang diri.
Suara gemuruh angin bercampur bunyi gesekan kabel dan tower listrik yang berdiri tepat di samping rumah membuat Litwina siaga.
Tak lama, listrik padam. Gelap menyelimuti rumah sempit itu. Angin semakin kencang.
"Kondisi saat itu gelap. Angin mulai kencang jadi kami bangun semua," tutur Litwina mengenang malam mengerikan tersebut.
Baca Juga: Janin Ditemukan Warga Dalam Sungai Ia memerintahkan Edwin berlindung di bawah kolong tempat tidur. Dengan satu tangan, Litwina memeluk erat Irwan yang masih balita.
Sementara Stela, anak sulungnya, berusaha membantu mendorong pintu rumah agar tak jebol diterjang angin.
Namun alam terlalu kuat. Dalam waktu sekejap, atap rumah mereka terangkat dan raib entah kemana.
Angin menerobos masuk, menghempaskan apa saja yang dilaluinya.
"Kejadiannya sangat cepat dan tiba-tiba sekali kami sudah di luar. Rumah tidak ada lagi," ujar Litwina.
Kepanikan mencapai puncaknya. Di tengah gelap, dan angin, Litwina menyadari satu hal Stela tidak ada di dekatnya.
Baca Juga: Cemburu, Pria di Kupang Aniaya Istrinya
"Stela! Stela! Stela!" teriaknya berulang kali, menantang bising angin malam.
Panggilan itu akhirnya terjawab. Suara lirih dari arah semak-semak sekitar 7 meter dari rumah yang telah hancur. "Iya mama," jawab Stela.
Ternyata Stela terhempas bersama puing-puing rumah. Bocah sembilan tahun itu masih memegang pintu ketika angin kencang mengangkatnya dan melemparkannya ke arah hutan kecil di sekitar permukiman.
"Saat itu dia pegang di balik pintu, jadi ketika angin kencang, dia ikut terbang sampai ke semak-semak," kenang Litwina dengan mata berkaca-kaca.
Malam itu, Litwina dan ketiga anaknya terpaksa mengungsi ke rumah tetangga hingga pagi.
Saat fajar menyingsing, mereka bersama warga sekitar mulai menyusuri semak dan hutan kecil untuk mencari sisa-sisa rumah yang kini tinggal kenangan.
"Ternyata bukan rumah kami sendiri yang rusak. Banyak rumah yang rusak," tandasnya.
Baca Juga: Gereja Yegar Sahaduta Belo Rusak Parah Diterjang Angin, Ibadah Minggu Bakal Digelar Dibawah Tenda
Di samping rumah yang hancur, tampak pondasi berukuran sekitar 5 x 7 meter, tumpukan pasir, dan besi beton.
Bahan bangunan itu rencana digunakan untuk membangun rumah permanen bagi keluarganya.
"Kami sebenarnya rencana bulan depan sudah mulai bangun rumah permanen," katanya lirih.
Untuk sementara waktu, Litwina memilih tinggal di sebuah kos-kosan dekat rumahnya yang rusak parah. "Kami kos dulu sambil pelan-pelan bangun rumah," tambahnya.