digtara.com -YBR (10), siswa kelas IV sekolah dasar yang mengakhiri hidup dengan cara gantung diri ternyata selalu meminta kepada ibunya untuk melakukan pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP).
Permintaan ini disampaikan YBR kepada ibunya beberapa kali bahkan sebelum ditemukan meninggal dunia.
Temuan ini disampaikan Bupati Ngada, Raymundus Bena pasca menerima laporan tim.
Bupati Raymundus mengatakan ada beberapa temuan lainnya mengenai kasus ini.
Baca Juga: Gubernur NTT Semprot Pemda Ngada Karena Tak Responsif Soal Kematian Bocah SD Pemerintah Kabupaten (Pemkab)
Ngada juga menegaskan kasus yang tragis dan traumatis ini tidak akan lagi terulang.
Temuan awal, kata dia, diketahui anak ini telah ditinggalkan sang ayah sejak usianya 1,7 tahun dan merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara.
Sang nenek pun berinisiatif merawatnya di rumah kebun dan sesekali akan mengunjungi ibunya di kampung halaman.
Fakta awal ini, sebutnya, diduga menjadi bisa pendorong sehingga korban mengambil pilihan untuk mengakhiri hidupnya.
"Sehingga pengalaman-pengalaman inilah yang mungkin membuat anak ini traumatis dan juga dalam perjalanan diambil-alih oleh neneknya di kebun," jelas dia.
Berdasarkan temuan mereka, kata dia, sebelum kejadian bocah ini beberapa kali bertanya kepada ibunya soal dana PIP miliknya.
Baca Juga: Tim Psikologi Polda NTT Beri Konseling dan Penguatan Mental Bagi Keluarga Siswa Korban Bunuh Diri di Ngada "Dia bertanya kapan PIP beasiswanya diurus dan mamanya bilang tunggu nanti pencairan ke BRI di kabupaten," jelasnya lagi.
Sementara secara administrasi pencairan tidak bisa dilakukan karena KTP ibunya masih berasal Kabupaten Nagekeo bukan Kabupaten Ngada sesuai domisilinya yang baru.
"Sehingga diberitahu untuk pulang dan urus dulu itu (administrasi) di kampung. Terus ditanya lagi anaknya dan dijawab sama lagi kalau akan diurus. Sampai terakhir belum sempat urus, suatu hari itu dia tidak ke sekolah dan ke kebun neneknya," tambah Bupati Ngada.
Untuk urusan administrasi ini, kakak pertama dan kedua dari ayahnya yang berbeda sudah masuk di Kabupaten
Ngada.
Sementara kakaknya yang ketiga hingga dirinya belum diurus.
Ia akhirnya pergi ke neneknya, pada saat neneknya tidak berada di tempat sehingga dia sendiri.
Baca Juga: Kapolda NTT Kirim Konselor Psikologi Dampingi Keluarga Siswa Korban Bunuh Diri
Beberapa orang yang lewat pun sempat bertanya kenapa tidak sekolah dan dijawabnya sedang sakit kepala.
Sekitar pukul 11.00 Wita, KD yang akan mengikat kerbau di kebun lewat rumah tersebut dan singgah.
Niatnya untuk mengabarkan agar kerbaunya bantu diawasi. Namun ia malah menemukan anak tersebut sudah tewas dengan kondisi mengenaskan di salah satu pohon cengkeh.
Bupati Ngada menyebut beasiswa korban sudah ada tetapi memang sulit dicairkan karena permasalahan administrasi ini.
Hal ini yang akan menjadi perhatian ke depannya. Pihaknya akan melakukan tindakan tegas agar warganya tertib melengkapi administrasi.
Baca Juga: Gubernur NTT Semprot Pemda Ngada Karena Tak Responsif Soal Kematian Bocah SD
"Saya akan tegas dan melaksanakan rapat koordinasi untuk indentifikasi benar-benar. Kalau masih ada masyarakat yang masa bodoh ya kita mesti tekan door to door," tambahnya.
Sementara dirinya juga menyiapkan juga PIP versi daerah dan menyediakan pakaian seragam.
Rencananya dalam pekan ini ia akan terlibat langsung dalam acara adat kedukaan dan makam korban.